Sumitro Hadi Maestro Tari Gandrung

Sumitro Hadi (tengah) bersama tamu. (foto/bb/wid)

Rogojampi (BisnisBanyuwangi.com) – DUNIA tari dan seni Using Banyuwangi yang tetap eksis hingga sekarang, tak bisa lepas dari sosok yang satu ini. Dialah, Sumitro Hadi, pemilik sanggar tari Jingga Putih di Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi. Seniman kawakan ini banyak menelorkan tarian yang tetap populer. Sebut saja tari Jejer Gandrung dan Jaran Dawuk. Bisa dibilang, dia adalah sang maestro tari Gandrung.

Keuletan Sumitro Hadi menekuni seni ternyata mengalir alami. Meski tidak mengenyam pendidikan formal tari, karyanya menjadi tarian  Banyuwangi yang mempunyai ‘roh’. Bahkan, karya-karyanya banyak dikenal ke negara lain. Seperti, Australia, Hongkong, Jepang hingga Amerika. Sumitro Hadi merupakan  sang koreografi tarian massal Gandrung Sewu sejak pertama digelar hingga ketiga kalinya. Kini, ketika dia tak lagi ikut menangani tarian massal Gandrung Sewu, pagelaran itu seolah kehilangan rohnya. Selain Gandrung Sewu, salah satu karya tarian yang hingga kini menjadi tarian pembukaan adalah Jejer Gandrung.

Lahir 16 Agustus 1951, pria yang akrab dipanggil Pak Mitrok ini belajar tari otodidak. Meski, dia mengaku memiliki guru tari Bali dan tari Jawa. Dia mengisahkan, tari Jejer Gandrung sebenarnya diilhami saat melihat tari Remo Surabaya yang dibawakan oleh beberapa penari perempuan. “ Kala itu, Banyuwangi belum punya, sehingga munculah idenya untuk membuat tari Jejer Gandrung,” kenang Sumitro saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Pendidikan aslinya adalah guru. Pernah mengajar di SMPN 2 Rogojampi, Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan pernah menjadi Kasi Kesenian, lalu dipindahkan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata hingga pensiun.

Konsep-konsep tarinya  selalu bisa diterima. Bahkan, menjadi pegangan penari-penari generasi berikutnya. Misalnya, ia meringkas hadrah kuntulan, mengenalkan penari perempuan di hadrah kuntulan, dan membawakan Dikir menjadi tontonan.

Pesannya pada generasi muda. Seperti ditulis salah satu muridnya, Moh. Syaiful dalam buku Sastra, Seni, Santet,  menunjukkan jika Sumitro adalah  sosok  yang sudah mencapai segalanya.

“Orang itu akan halus budinya dan tebal rasa tahu dirinya kalau sudah belepotan dalam masalah seni. Jadi, bukan seniman kalau masih punya rasa iri, dengki dan nafsu serakah dan angkara,” jelasnya.

Sumitro menceritakan, Gandrung sebelum tahun 1970-an konotasinya jelek. Yang ada hanya gandrung terop. Dulu setiap pertunjukan Gandrung, selalu adu jotos antarpenonton. Ada minuman keras. Akhirnya, Bupati saat itu, Djoko Supaat Slamet ingin mengubah keadaan itu dengan mengangkat derajat Gandrung. Keluarlah instruksi,  Gandrung dilarang ngamen di jalanan. Dahulu, sore hari, Gandrung mengamen dari rumah ke rumah dengan berjalan kaki. Terima uang. Kemudian, Bupati memerintahkan agar Gandrung diangkat. Alat musik, termasuk gamelan dahulu tanpa kethuk dan biola.  “Saya pernah disatru (tidak disapa) oleh suaminya Gandrung Asmah, polisi, bahkan tentara. Saat itu ada keributan di pentas Gandrung, saya naik pentas, lantas ambil mik, terus minta  hormati Gandrung ini,” kenangnya.

Ihwal tarian Jejer Gandrung, kata Sumitro, ketika sering tampil di Surabaya. Berawal dari tarian Remong massal. Lalu, tercetuslah Jejer Gandrung. Awalnya, dia mengajak penari Gandrung profesional atau Gandrung terop ke Pendopo. Ternyata, tidak bisa. Sebab, Gandrung profesional semaunya sendiri.  Akhirnya Sumitro beralih ke siswa yang biasa menari tari kreasi.

“Dua minggu suntuk. Sejak anak yang tidak bisa menari Gandrung, sampai bisa menari. Termasuk, anaknya Bupati, sekarang jadi dokter di Kalimantan Timur. Yaitulah  Gandrung pertama pelajar. Lantas setelahnya basis-basis Gandrung pelajar ada di SMKK, SPG Pandan, SMP1 Rogojampi, SMEA,” kisahnya.

Awalnya, tidak semua setuju dengan konsep Sumitro. Ia mengaku dipanggil oleh Kiai Harun almarhum (Darunnajah, Tukangkayu) jika konsepnya menciptakan Jejer itu seperti diomeli. Tapi anaknya Bupati justru mau kala itu. Terkait tarian Padangulan, Sumitro menjelaskan, jika tari Jejer baru ada tahun 1975. Lebih dulu Padangulan, tahun 1968. Yang mencipatakan Wim Arimaya, terakhir bertugas di Kabat.

Sumitro mulai bergelut ke dunia tari sejak tahun 1968. Bahkan, hampir di setiap kampung di Banyuwangi sudah dia jelajahi untuk diajari menari. Mulai Wongsorejo, Pasewaran, Glenmore, Kalibaru, Pesanggaran hingga pesisir selatan Lampon. Termasuk, Tegaldlimo. “Saya bisa memainkan keluncing, melucu, pokoknya semuanya. Pernah tidur di sawah, di sekolah sampai di hotel Holiday Inn di Los Angeles. Pernah tiduran di lantai, pernah berjalan kaki dari tempat menari di Songgon ke Bumisari. Pengalaman begitu berkesan,” kisahnya sambil tersenyum.

Ketika masuk Pemda tahun 1970, Sumitro  mulai menyusun nama gerakan-gerakan tari. Tahun 1975, dia memiliki buku catatan sementara, tapi sudah dipakai di ISI hingga STKW Surabaya.  “Jadi tahun 1972 mulai saya rintis. Tahun 1974 sudah melatih guru-guru SD per kawedanan (pembantu bupati) Rogojampi, Genteng, Benculuk. Tangannya begini,  cangkah, cangkah geter, songkloh. Tahun 1975, baru dikukuhkan. Sayang gothang-gothang, masih tulisan tangan,” ujarnya.

Ada banyak tarian kolosal yang diciptakan Sumitro Hadi. Seperti tari Jaran Butho massal dan Bre Wirabumi.  Tahun 1975,  dia mendapat hadiah Parasamya Purna Nugraha. “Kalau Jaran Dhawuk, satu-satunya tari yang dibuat tahun tahun 1979, untuk Hari Pers nasional di Gresik. Tiga hari, sebenarnya tari itu, yang ingin saya sampaikan, komunikasi gerakan Gandrung dengan penabuh keluncing,” jelasnya. Tarian itu, kata dia,  pernah dibeli oleh Dirjen Kebudayaan, dengan harga Rp 1.5 juta, lalu di rekam. Kasetnya disebar ke duta-duta besar.

” Kebetulan saya sedang diklat tari penilik di Sawangan. Tahun 1980-an,” kenangnya. Dia menyarankan bagi pelatik tari jika membuat tarian jangan hanya  menumpuk gerak. Dimulai dari konsep. Dia juga prihatin  banyak yang menggunakan karyanya dan mendapatkan imbalan, sementara si pencipta sendiri tidak mendapatkan apa-apa.

“Ada seniman-seniman yang menggunakan tari karya saya, meski tidak secara langsung meminta pada saya. Semua penata tari pernah memakai tari Jejer, dapat uang. Saya tak pernah meminta uangnya. Rezeki masing-masing, tidak apa-apa,” ungkapnya.

Yang mengesankan, sosok sekelas Sumitro Hadi tetap hati-hati dalam berkarya. Pasalnya, ia paling khawatir disalahkan orang. Seperti ketika  meluruskan sejarah. Saat Gandrung  Sewu keempat, ia membuat Blambangan kalah dari Belanda. Banyak yang  dilempar ke laut. Tetapi ketika menggarap demikian, banyak orang menyalahkan. “ Banyak yang marah juga, kok Blambangan dikalahakan oleh Belanda. Padahal sejarahnya memang begitu,” pungkasnya. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here