Produksi Sambal, Kembangkan Potensi Lokal

9
Emiwati dengan produk sambal hasil kreasinya. (foto/bb/tin)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.co.id) – MENGOLAH peluang menjadi uang. Inilah yang dilakukan Emiwati. Siapa sangka, usaha yang kerap dianggap sepele ini justru beromzet puluhan juta. Usaha sambal ditekuni Emi, panggilan akrabnya, sejak tahun 2014. Awalnya, merintis usaha oleh-oleh. Kini, sambal “ Bu Emi” buatannya banyak merambah kawasan ibu kota dan kota besar lainnya.

“Pilihan usaha sambal ini tak lepas dari misi saya, ingin mengembangkan potensi lokal, tanpa meninggalkan olahan lautan,” ungkap wanita kelahiran 23 Oktober ini kepada Bisnis Banyuwangi,  belum lama ini. Saat ini, kata dia, kawasan Wongsorejo dikenal sebagai kawasan penghasil cabai.

Adanya usaha sambal “Bu Emi” ini, banyak petani cabai terbantu. Terutama, saat musim panen raya. Di rumahnya, di kawasan Jalan Raya Wongsorejo, Desa Bangring, dijadikan rumah produksi. Beragam makan olahan diproduksi. Total, hampir 46 jenis produk.  Proses produksi dibantu tenaga kerja yang merupakan purna peserta magang di rumah produksi “Bu Emi”.

Sambal dan produk olahan ikan menjadi produk unggulan. “ Sambel ini saya buat mix dengan olahan ikan,” jelasnya.  Yang membuat sambal buatan rumah produksi “Bu Emi” ini terasa istimewa,dibuat dari bahan berkualitas. Seperti, bahan utama cabai segar yang di mix dengan olahan ikan.

Tersedia enam variasi rasa. Yakni, sambal cumi, sambal teri, sambal pedho, sambal ebi, sambal petis tuna dan sambal petis udang.  Dibuat tanpa pengawet buatan, tanpa MSG. Penyedapnya memakai bahan alami, penyedap  jamur yang khusus didatangkan dari Jawa Barat.  Meski tanpa pengawet buatan, sambel “Bu Emi” bisa tahan sampai enam bulan. Sehingga cocok untuk oleh-oleh khas Banyuwangi.

Menurut Emi, peluang usaha sambel dan olahan ikan ini sangat menjanjikan. Sambal, kata dia, masih menjadi sajian favorit masyarakat Indonesia. Apalagi bahan baku melimpah. Ditambahkan, peluang produk olahan ikan juga masih terbuka lebar, belum banyak orang menekuni. Bahan ikan juga melimpah.

Proses produksi sambal ini, kata Emi tergantung pasar. Rata-rata seminggu empat kali. Sekali produksi, mengolah 20 kilogram bahan cabai segar. Stok cabai disuplai dari petani setempat.

Pemasaran, selain dipasarkan di outlet oleh-oleh “Bu Emi” juga sudah menjangkau seluruh pusat oleh -oleh di Banyuwangi, kafe dan supermarket. Termasuk melayani permintaan pemasaran online. “ Alhamdullilah, omzetnya lebih dari Rp 50 juta per bulan,” ucapnya.

Saat ini pemasaran produk sambal mulai merambah pasar international. “Kami sempat diundang pameran di Australia. Responnya bagus, terutama untuk produk sambal dan olahan ikan,” ucapnya.

Tawaran pameran ke Australia berikutnya sudah menghampiri. Rencananya, Maret mendatang. Syaratnya, label produk sambel sudah berbahasa Inggris. Sambal dan produk ikan buatannya disukai semua kalangan. Termasuk pejabat. Bahkan  Tommy Soeharto sempat penasaran dan  mencicipi sambal buatannya.

Emi berharap produk sambal dan olahan ikan ini bisa menjadi produk oleh – oleh khas Banyuwangi. Selain sibuk menekuni usaha oleh -oleh, Emi juga tercatat sebagai pejabat fungsional di Balai  Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) sejak 1989.

Aktif sebagai instruktur pelatihan olahan sejak 2008 dan aktif sebagai narasumber pelatih ke berbagai daerah. Dia juga dipercaya Kementrian Kelautan Perikanan (KKP) memberikan pelatihan olahan ikan kepada masyarakat. Harapannya, 60 persen peserta harus mandiri. “Jadi, kami aktif mencetak pengusaha baru,” ucapnya.

Peserta magang dari KKP datang dari seluruh Banyuwangi. Kebanyakan pelaku UKM pemula. Pihaknya juga membantu pemasaran. Kini, sekitar 30 pelaku UMKM menjadi mitranya. Sejumlah negara juga menjadikannya lokasi studi banding. (tin)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan

HUB. : 085236362484