Tiga Tahun Bebas, Terpidana Korupsi Dieksekusi Paksa

5
Terpidana korupsi pengadaan buku digelandang ke Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Rabu (27/2). (foto/bb/udi)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.co.id) – Tiga tahun melenggang bebas, terpidana kasus korupsi pengadaan buku sekolah dieksekusi paksa Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Rabu (27/2). Kejaksaan terpaksa melakukan penjemputan setelah terpidana tiga kali mangkir memenuhi panggilan Jaksa eksekutor.  Begitu dieksekusi, terpidana langsung dibawa ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banyuwangi. Dia harus menjalani hukuman penjara setidaknya 6 tahun.

Terpidana itu, Achmat Taufiqul Hidayat (47), warga Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi. Pria yang juga marketing pengadaan perangkat sekolah tersebut berurusan dengan penyidik Polres Banyuwangi, tahun 2013 silam. Kala itu, dia terlibat dalam pengadaan buku dan alat peraga di 52 SD/MI. Menggunakan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2007. Total kerugian negara mencapai Rp 1,7 miliar.

Kala itu, setiap sekolah ditarik anggaran Rp 100 juta dari DAK untuk pengadaan buku dan alat peraga. Kenyataanya, anggaran yang dipakai tak sampai Rp 100 juta untuk satu sekolah. “ Terpidana divonis 4,6 tahun penjara, denda Rp 100 juta dan mengembalikan kerugian negara Rp 1,68 miliar di Pengadilan Negeri Tipikor Surabaya. Lalu, banding dan putusannya tetap. Hingga kasasi ke MA tahun 2015,” kata Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Banyuwangi Adonis didampingi Kasi Intel Bagus Adi Saputro.

Ketika disidik Polres, terpidana ditahan hingga persidangan. Akibat lamanya proses sidang, terpidana terpaksa dibebaskan lantaran masa penahanan sudah habis. Pihaknya baru mendapatkan putusan MA dari pengadilan, September 2018. Lalu, dilanjutkan tahapan eksekusi. “ Tahapan pemanggilan pertama hingga ketiga, terpidana tak datang. Akhirnya, kita eksekusi dibantu aparat kepolisian,” jelas Adonis.

Ditambahkan, jika ditotal, masa hukuman yang harus dijalani terpidana selama 6 tahun. Putusan MA, kata dia, tak jauh beda dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Banyuwangi. Pihaknya, lanjut Adonis, melakukan eksekusi untuk menjalankan putusan hukum yang sudah final alias inkrah. Saat dilakukan eksekusi, terpidana sempat berusaha melakukan perlawanan.

Sementara itu, terpidana Achmat Taufiqul Hidayat menyayangkan hanya dirinya yang diproses hukum. Padahal, kala itu, penggunaan DAK melibatkan sejumlah oknum pejabat Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan. Bahkan, dia mengklaim, salah satu tersangka yang terlibat tak juga diproses hukum. “ Saya hanya dikorbankan. Banyak yang terlibat, tapi hanya saya yang diproses. Ini bagaimana,” keluhnya.

Dalam pengakuannya, dia menyebut sejumlah pelaku yang ikut menikmati dana DAK  masih melenggang bebas. Menurut Achmat, dari anggaran DAK Rp 100 juta per sekolah, seluruhnya hanya digunakan 70 persen. Total, kata dia, 47 sekolah. “ Yang 30 persen dibagi-bagi. Saya hanya bertugas sebagai marketing pengadaan dan menyelamatkan uang pajak,” pungkasnya. (udi)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan

HUB. : 085236362484