Rawan Air Bersih, Warga Wongsorejo Andalkan Sumur Bor

5
Warga memanfaatkan air bersih dari sumur bor di Dusun Pal Empat, Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi,Sabtu (2/3). (foto/bb/udi)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.co.id) – Memiliki kontur tanah kering, berbatu, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, rawan mengalami krisis air bersih. Warga banyak mengandalkan pasokan air dari sumber alami. Tak jarang, krisis air kerap melanda ketika kemarau. Sebab, debit air cenderung turun.

Krisis air ini tak akan menghampiri warga lagi tahun ini setelah sumur bor terbangun, bantuan Kementerian Energi Sumberdaya Mineral (ESDM). Sumur bor dengan kedalaman 126 meter, debit airnya 2,2 liter per detik. “ Krisis air bersih rawan bagi warga di Kecamatan Wongsorejo. Sebab, kontur tanahnya memang berbatu dan membutuhkan mata air yang dalam,” kata Liela Ubaidi, tenaga ahli Menteri ESDM Bidang Geopark, Museum dan Sarana Prasarana usai penyerahan sumur bor di Dusun Pal Empat, Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Sabtu (2/3).

Dijelaskan, selain Banyuwangi, sumur bor banyak digelontor di sejumlah titik di Indonesia. Total, 550 titik sumur bor. Tersebar di sejumlah provinsi. “ Di Jatim yang masuk kawasan subur, tetap ada yang membutuhkan sumur bor. Selain Banyuwangi, ada Situbondo dan Lamongan,” jelasnya.

Khusus di Banyuwangi, sumur bor ini mampu melayani 3000 jiwa, kapasitas tandonnya mampu menampung 5000 liter air. Menurutnya, Banyuwangi membutuhkan pasokan air bersih yang besar. Apalagi, menjadi salah satu kawasan wisata yang sedang berkembang. Dan, masuk kawasan geopark internasional. “ Sumur bor ini menjadi jawaban jika ada daerah yang rawan krisis air bersih,” tegasnya.

Camat Wongsorejo Sulistyowati menjelaskan sumur bor dari Kementerian ESDM ini akan dikelola Desa bersama kelompok masyarakat. “ Nantinya, masyarakat akan memberikan iuran ketika mendapatkan pemasangan air bersih ini. Jadi, biayanya sangat murah,” jelasnya. Iuran itu untuk biaya pengelolaan jaringan air bersih ini. Selama ini, kata dia, warga yang rawan krisis air hanya mengandalkan mata air. Jika kemarau, rawan kekeringan.

Salah satu warga, Sumiyati merasa sumringah dengan sumur bor ini. Selama ini, warga harus menempuh jarak sekitar 2 kilometer mendapatkan air bersih. Namun, saat kemarau, debit air selalu turun, bahkan kering. “ Sekarang, 24 jam air tersedia dari sumur bor. Jaraknya juga deket dengan rumah,” ujarnya. (udi)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan

HUB. : 085236362484