Perjuangkan Sengketa Lahan, Petani Deklarasi Sertawangi

37
Ratusan petani menggelar deklarasi Serikat Tani Banyuwangi (Sertawangi) di aula Untag, Selasa (5/3). (foto/bb/udi)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.co.id) – Peliknya sengketa lahan, membuat petani di Banyuwangi terus merapatkan barisan. Mereka mendeklarasikan Serikat Tani Banyuwangi (Sertawangi) di aula Untag’45 Banyuwangi, Selasa (5/3). Yang istimewa, deklarasi ini dihadiri dua komisioner Komnas HAM. Lembaga ini secara khusus akan mendampingi para petani menyelesaikan konflik agrarian di Bumi Blambangan.

Deklarasi Sertawangi ini merupakan bagian dari Serikat Petani Perjuangan Tapal Kuda (Sepetak). Tujuannya, memberikan ruang dan pendampingan agar sengketa agrarian bisa diselesaikan dengan baik. Sehingga, masyarakat petani bisa merasakan reformasi agraria yang digulirkan Presiden. “ Deklarasi Sertawangi akan menjadi kendaraan bagi petani Banyuwangi untuk bersatu, menyelesaikan sengketa agrarian,” kata Ketua Sepetak, Jumain.

Pihaknya berharap dengan adanya Sertawangi, petani Banyuwangi makin kompak. Dan, tetap bersemangat berjuang menyelesaikan sengketa agraria. Sejauh ini, kata dia, sejumlah sengketa agrarian sedang diperjuangkan para petani di Banyuwangi.

Diantaranya, di Desa Pakel (Licin), Desa Bongkoran (Wongsorejo) dan Tanah Pusaka di Desa Grajagan (Purwoharjo). “ Petani harus makin kompak untuk berjuang. Apalagi, ada Komnas HAM yang siap di belakang kita,” tegas Jumain. Ketua Sertawangi dijabat Yatno Subandio, petani asal Desa Bongkoran, Kecamatan Wongsorejo.

Aktivis sosial yang juga politisi PDIP, Sony T Danaparamita berharap petani yang tergabung dalam Sertawangi makin solid dan kuat berjuang. “ Negara kita bisa merdeka karena perjuangan. Ketika kita berjuang, nanti pasti akan membuahkan hasil. Petani bisa merdeka,” jelasnya.

Menurutnya, kehadiran Komnas HAM di Banyuwangi bisa memberikan semangat perjuangan petani. Salah satunya, akan mendesak Pemkab Banyuwangi segera membentuk Gugus Terpadu Reformasi Agraria (GTRA). Sebab, hal ini sesuai dengan Perpres 86/2018 tentang Reforma Agraria. “ Harapannya, kalau nanti petani bisa menguasai lahan yang disengketakan, jangan dijual ke investor. Tapi, digarap untuk kesejahteraan bersama,” tegasnya.

Rektor Untag’45 Banyuwangi, Andang Subaharianto menyambut baik deklarasi petani ini. Menurutnya, kampus Untag tidak boleh alergi dengan berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat. Salah satunya, sengketa agraria yang melibatkan petani. “ Kampus kami akan terbuka dengan kegiatan sosial untuk masyarakat,” ujarnya. (udi)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan

HUB. : 085236362484