Angkringan “Mbah Dharmo”, Pertahankan Menu Nasi Bakar dan Kopi Areng

71
Salah satu menu andalan di angkringan Mbah Dharmo. (foto/bb/ist)

Jajag (BisnisBanyuwangi.co.id) – MENGUSUNG angkringan khas Yogyakarta, konsep ini yang dipilih Sutomo dalam membangun usaha kuliner.  Namanya, angkringan Mbah Dharmo, menjadi pilihan usaha angkringan yang buka  di kawasan Jajag ini.  Usaha angkringan ini dia rintis, sejak tahun 2014, bermodal nekad. Dengan merogoh kocek Rp 10 juta. “Modal awal saya jual dua kamera,” ungkapnya kepada Bisnis Banyuwangi, belum lama ini.

Berawal dari konsep gerobak, konsep angkringan dia pilih untuk meraih pasar. “Konsep angkringan identik dengan harga murah dan lebih merakyat,” ucapnya. Konsep tersebut ternyata sukses merebut pasar. Namun, seiring waktu konsep angkringan perlahan dia geser ke konsep kafe sesuai tren pasar. Menurutnya, saat ini orang nongkrong lebih mencari prestise.

Menu dibuat kian bervariasi. Ada 30 variasi makanan, dan 40 jenis minuman. Dari menu tradisional sampai menu kekinian. Menu-menu yang disajikan diadopsi dari berbagai kota. Seperti wedang cor ala Jember dan ayam betutu ala Bali.

Untuk mengobati kangen pelanggan, menu angkringan masih dipertahankan. Seperti nasi bakar dan kopi Joss. Yakni, kopi Areng ala Yogyakarta. Berbagai jenis kopi disajikan bagi penikmat kopi. Salah satunya kopi luwak. Menu-menu yang ditawarkan cukup murah.

Angkringan Mbah Dharmo ini buka mulai jam 12.00 WIB hingga tengah malam. Ada live musik setiap Selasa malam dan Jumat malam. Untuk menarik pelanggan, tiap Minggu ada program promo minggon. Yakni, ada satu menu yang didiskon sampai 30 persen.

Konsep angkringan ini dibuat sangat nyaman. Meski, sederhana, namun menarik. Furniture yang dipilih lebih banyak dari bahan kayu. Seperti, ranting dan potongan potongan kayu. Kesan alaminya sangat terasa. Apalagi adanya tanaman rambat di sekitar lokasi, menambah suasana alami.

Mbah Dharmo, begitu akrap disapa, merintis usaha kuliner berangkat dari pengalamannya bekerja di villa dan restoran di Bali.

Menurutnya prospek usaha kuliner di Banyuwangi makin bagus. Khususnya dikawasan Jajag. Meski, dia merasakan persaingan kian ketat. “Makin banyak usaha kafe di Jajag, makin bagus. Agar Jajag makin dikenal sebagai pusat tongkrongan,” ucapnya.

Untuk kawasan Banyuwangi selatan, harga buah berpengaruh pada ramai sepinya pelanggan. Karena rata-rata pelanggan petani. Musim ramai, puasa dan  Lebaran. Omzet tembus Rp 12 juta hingga Rp 30 juta per bulan. (tin)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan

HUB. : 085236362484