Menggiurkan, Bisnis Budidaya Tanaman Hias

Bisnis budidaya tanaman hias prospeknya menggiurkan. (foto/bb/wid)

Kalipuro (BisnisBanyuwangi.com) – TERLIHAT sederhana, bisnis budidaya tanaman hias ternyata memberikan keuntungan cukup besar. Peluangnya juga bagus, mengingat Banyuwangi menjadi jujugan wisatawan.

Junaidi, pebisnis tanaman hias di Lingkungan Secang, Kalipuro, menuturkan, tanaman hias berpeluang besar menjadi usaha sampingan yang menguntungkan. Menurutnya, permintaan pasar terus meningkat. ” Rata-rata, setiap tahun naik sekitar 10 persen. Jadi, sektor florikultura ini sangat menjanjikan dari sisi bisnis,” katanya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Menurutnya, para pecinta tanaman hias tak perlu ke Malang untuk berburu tanaman. Di tempatnya, di Lingkungan Wangkal, Kalipuro tersedia aneka bunga hias. Harganya dijamin terjangkau. Mulai harga Rp 1000 hingga Rp 300.000 per pot. Harga termurah seperti jenis bunga pucuk merah, asoka, puring, krokot, bunga gantung janda merana dan lulaiwan yang dipatok antara Rp 1000 hingga Rp 10.000 per batang.  Sementara buah tin yang memiliki banyak varian harganya dipatok mulai Rp 20.000 hingga Rp 100.000 per batang. Ia memiliki 5 varian, seperti green jourdan, purple, flander, tena dan blue giant.  “Yang paling mahal antara lain bonsai pole yang bisa mencapai Rp 2 juta,” jelasnya.

Junaidi mengaku, awalnya ia hanya fokus pada pembibitan tanaman sengon. Tapi, karena pohon sengon hanya bersifat musiman, ia mulai berinovasi membuat budidaya tanaman hias. Kini, dia memiliki 15 jenis tanamam yang dikelola. Bisnis ini dimulai tahun 2015. Sebelumnya, di pembibitan sengon diawali tahun 2014. Dia bergabung bersama Asosiasi Petani Tanaman Hias Banyuwangi (APTHB).

Mengawali bisnis tanaman hias, ia menghabiskan dana hingga Rp 20 juta. Modal awal untuk membeli peralatan dan perlengkapan. Seperti pot, media tanam dan lainnya. Sementara, bibit dibeli sendiri, lalu membuat indukan. ” Wilayah pengiriman baru di kirim ke Banyuwangi, Genteng, Wongsorejo,”ungkapnya.

Biasanya, lanjut Junaidi, pembeli tanaman hias akan membawa pick up sendiri. Tanaman yang siap jual berusia 3 bulan dari benih. Jika cangkok bisa 2 bulan sudah siap jual. Selama ini, pembeli lebih banyak kios, pedagang dan lembaga pendidikan.

Menyikapi persaingan, Junaidi mengaku lebih menjual mutu. Seperti pengemasan dan harga terjangkau.  Ada diskon bagi pembelian 1.000 pot dan mendapat tambahan tanaman 5 persen. Hal ini juga sebagai bagian dari pengganti kerusakan bila memakan waktu lama dan jarak tempuh jauh. ” Kalau omzet tidak besar, ya sekitar Rp 3 hingga Rp 4 juta. Paling sepi Rp 1 juta,” katanya.

Sebagai sarana promosi, ia aktif mengikuti pameran, posting di medsos dan iklan di radio. Karena banyaknya permintaan, Junaidi menggunakan 2 tenaga kerja jika musim tidak terlalu ramai. Kalau musim ramai bisa menggunakan 10 tenaga kerja mengisi polyback dengan media tanam dan tanaman. Selain menggeluti budidaya tanaman hias, ia juga membuat taman di rumah. Melayani pesan antar gratis jika ada konsumen melakukan transaksi diatas Rp 100.000 ntuk wilayah Kecamatan Banyuwangi, Giri, Kalipuro. Modal menjadi kendala untuk pembelian bunga indukan. Biasanya dia mengambil indukan di Malang atau Kediri.

“Kami juga melayani pesan antar. Jadi, kalau ada yang minat dan ingin diantar ya kami layani,” pungkasnya. (wid)