Drs. Sabar Harianto, M.Pd, Mencetak Seniman hingga Pelatih Tari

Sabar Harianto. (foto/bb/wid)

Srono (BisnisBanyuwangi.com) – SENI tari adalah dunianya. Dunia ini yang membesarkan namanya. Meski bukan dari keluarga seniman, putra pasangan Musiran (alm.) dan Ponikem ini bisa menjadi penata tari papan atas di Banyuwangi. Kiprah pria kelahiran Desa Bagorejo, Kecamatan Srono, 9 Maret 1966 ini memajukan seni di Bumi Blambangan layak diacungi jempol. Di tangannya, ratusan seniman lahir, termasuk para pelatih tari. Dialah, Sabar Harianto, M.Pd, pemilik Sanggar Tari “Lang-lang Buana” di Jalan Trunojoyo Gang Kepundansari 48, Kebalenan, Banyuwangi.

Mengenal tari sejak kelas 4 SD, membuat Sabar, panggilan akrabnya, terkenal. Dunia tari seolah identik dengannya.  “Waktu itu  saya diajak oleh Sumitro Hadi tampil membawakan tarian “Layangan Pedhot”, sekitar tahun 1975,” kenang Sabar mengawali perbincangannya dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu. Tak disangka, karir hidupnya berawal dari tarian itu. Bahkan, hingga kini, menjadi sandaran hidup keluarga.

Sabar mengisahkan, kecintaannya terhadap dunia tari semakin memuncak ketika mengabdi sebagai guru honorer di sebuah SD, tahun 1987. Selama 20 tahun lebih mengajar kesenian,  akhirnya diangkat sebagai PNS, tahun 2007. Kondisi ini membuatnya makin dalam menekuni dunia tari. Bahkan, menjadi bagian penting dalan hidup. Dunia itu juga yang memberikannya pelajaran dan banyak pengalaman.

Sabar  termasuk seniman tari yang produktif. Hingga saat ini ada sekitar 50 jenis tari yang sudah diciptakan. Dari sekian tarian itu, tiga diantaranya berhasil menyabet penghargaan tingkat nasional. Masing-masing, Tari Sri Ganyong, Tari Pret Kampretan dan Tari Jaran Buto Edan. Bahkan, Tari Jaran Buto Edan pernah diperankannya sendiri secara total ketika tampil dalam The 21st April Spring Friendship Art Festival di Pyongyang, Korea Utara, tahun 2003.

Kepiawaiannya dalam bidang tari membuatnya tergerak membuka sangar tari. Nama sanggar “Lang-lang Buana” dipilih. Alasannya, dia sudah lama malang-melintang dalam jagat tari Banyuwangi. Termasuk. melanglang buana ke tujuh negara mengikuti pagelaran seni.

Rumahnya sekaligus dijadikan tempat berlatih para anggota. Dibantu istri dan para anggota senior, Sabar menggembleng para calon penari muda. Nama besar Sabar sebagai penari profesional menjadi daya-tarik tersendiri bagi para peserta didik bergabung di sanggarnya.

Sabar menerapkan model pelatihan yang mengutamakan penguasaan gerak tari tradisional . “ Ini sebagai basis untuk membuat tari-tari garapan,” jelasnya. Berekal pengetahuan dan pengalaman sejak muda, Sabar mengajari anak didiknya  level-level tarian tradisional. Mulai level dasar sampai lanjut.

Anak didiknya juga sering dilibatkan dalam berbagai pertunjukan bergengsi. Sehingga, menambah pengalaman estetika tarian secara langsung. Model pelatihan tersebut mampu menarik minat peserta didik tetap bertahan di sanggarnya. Dampak positifnya, beberapa anak  didik berhasil menguasai tari tradisional maupun tari garapan. Selain mendidik calon penari, ia juga mendidik calon musisi, utamanya laki-laki.

Untuk memberi pengalaman lebih kepada anak didik yang sudah mumpuni, Sabar mengirimnya melatih tari di beberapa SD maupun SMP. “Mereka saya kirim untuk melatih di beberapa sekolah. Ada yang sampai di Wongsorejo, ada yang di seputaran kota. Saya kirim mereka, supaya dapat pengalaman dan bisa bertambah wawasan,” jelasnya. Selama melatih, kata Sabar, anak didiknya juga mendapat honor. Namun, terpenting anak didiknya bisa menularkan ilmu tari yang sudah diberikan.

Keputusan Sabar  mengirim anak didik sebagai pelatih di sekolah-sekolah didasari pertimbangan matang. Dia juga biasa memantau langsung kegiatan latihan. Memberi kepercayaan kepada anak didik untuk melatih, secara langsung membiasakan mereka bertanggung jawab. Lalu, terus mengasah kemampuan tarinya. Sehingga tidak mengecewakan pihak sekolah. Melalui metode itulah, para peserta didik dengan skill mumpuni bisa mendapatkan honor. Sekaligus, menyebarluaskan pengetahuan tari kepada kalangan siswa.

Sabar juga memberi kepercayaan anak didik senior ikut menata  koreografis tari garapan, termasuk musikal. Tujuannya, memberikan kesempatan mengekspresikan pengetahuan dan kreativitas setelah belajar dari sanggar. Selain itu, memupuk kemampuan dan keberanian anak didik menciptakan tari garapan.  “Motivasi awal saya mendirikan Langlang Buana adalah  mendidik anak didik sampai bisa melatih. Jadi, saya harus berani membuat terobosan,” ujarnya.

Biasanya, kata Sabar, di Banyuwangi, para ketua sanggar yang menggarap tari dan musik. Namun, pihaknya mencoba hal beda. Anak didik senior diberikan kebebasan menciptakan tari garapan atau musik pengiringnya. Jika tarian atau musik hasil garapan anak didik, Sabar tak sungkan mengumumkannya ke publik.  “ Jadi, saya tidak mengklaim garapan saya. Istilahnya, saya berusaha memberikan kesempatan show of force, biar lebih dikenal public,” tuturnya.

Berkat kepiawaiannya itu, Sabar dan tim di sanggarna kerap mendapat pesanan tari garapan. Baik dari pemkab maupun lembaga swasta. Dari proyek inilah, Sabar bisa memperbanyak tabungan untuk keperluan sanggar dan anggota. Meskipun berorientasi komersil, bukan berarti ia melupakan penggarapan aspek estetik pertunjukan. Sebab, bisa mengendurkan kepercayaan klien. Permintaan tari garapan ini juga datang dari daerah lain.

Sabar mengaku pernah diminta Pemkab Situbondo membuat tari garapan, sekaligus musiknya. Tarian ini mewakili ke festival tingkat Jatim. Dia menyanggupi. Dibentuklah sangar, menggali kasanah budaya Situbondo yang khas Madura. Alhasil, Situbondo mendapatkan nominasi penampil terbaik. Dia juga pernah dikontrak Pemkab Probolinggo. Menggarap tari Glipang dipadukan dengan Banyuwangi-an untuk even di Jembrana, Bali. “Bagi saya, kesenian Banyuwangi perlu regenerasi, supaya terus berkembang,” pungkasnya (wid)