Dodol Bayam, Disukai TKW untuk Oleh-oleh

Dodol bayam disukai para TKW untuk oleh-oleh. (foto/bb/tin)

Bangorejo (BisnisBanyuwangi.com) – DODOL, camilan satu ini tengah diminati. Ternyata, banyak bahan bisa dibuat menjadi dodol. Seperti daun bayam dan kelor. Dari bahan sayur ini, bisa dibuat dodol bernilai jual. Selain enak, juga berkhasiat untuk kesehatan.

Usaha dodol ini ditekuni tiga ibu rumah tangga, Sunarti, Pipit dan Riska. Ketiganya kompak ingin membuat usaha untuk menambah penghasilan keluarga. “Awalnya kami coba-coba bikin, ternyata banyak yang suka,” ucap Sunarti kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Usaha dodol baru ditekuni sejak November 2017. Selain minim modal, kata Sunarti, usaha ini cukup menghasilkan. Proses produksi dilakukan di rumahnya Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo. Kini, mereka membuat dodol berbagai macam varian. Seperti, dodol buah naga, dodol bayam, dodol waluh. Terbaru dodol nanas dan kelor.

Di awal usaha, kemasan dodol dibuat sederhana. Alasannya, keterbatasan modal. Lambat laun, seiring banyaknya permintaan dodol, kemasan dibuat makin menarik, dalam wadah toples cantik. Sehingga cocok untuk oleh-oleh. Per toples isi 20 biji, dibandrol Rp 12.000.

Sejauh , kata Sunarti, pemasaran dodol masih mengandalkan promosi online, serta dari mulut ke mulut. “Pesanan cukup banyak untuk oleh-oleh. Terutama banyak dari para TKW,” ungkapnya.

Menariknya, selain dikemas dalam kemasan cantik, dodol “Lumintu” ini dibuat dengan pengawet alami. Dimasak selama 3 jam, sehingga tahan sampai 3 minggu. Bahan utama yang digunakan, selain buah dan sayur, juga menggunakan bahan tepung ketan, susu, gula dan santan. Rasa manisnya legit, beraroma wangi.

Kapasitas produksi, sejauh ini, kata Sunarti, masih sebatas 8 kilogram per minggu.  Dengan perolehan omzet Rp 800.000 per minggu. Selain menambah penghasilan, para ibu rumah tangga ini senang, lantaran mereka tak susah lagi memaksa anak makan sayur. “Kebetulan anak-anak senang dengan dodol sayur ini,” ungkapnya. (tin)