Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Banyuwangi, Kenalkan Potensi Lokal dengan Gesah Milenial

Personel BPAN Using Banyuwangi. (foto/bb/wid)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – KIPRAH remaja Banyuwangi yang tergabung Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) dalam mengangkat potensi lokal, tak perlu diragukan. Beragam kegiatan digelar untuk mendongkrak kekayaan Banyuwangi. Terbaru, mereka menggelar “Gesah a Casual Talk” di rumah kresi Banyuwangi,pekan lalu. Topiknya, membedah potensi lokal “ Using Milenial”.

Sedikitnya, tiga narasumber dihadirkan. Fokusnya, inovasi generasi milenial dalam membangun potensi Banyuwangi. “Tujuan kegiatan ini, tentu saja mengenalkan budaya dengan diskusi yang dikemas santai dan kekinian. Jadi, anak muda lebih tertarik untuk datang ke acara Gesah Using Milenial (obrolan orang Using milenial),” kata Ketua Panitia Arif Wibowo kepada Bisnis Banyuwangi.

Menurut Arief, mengenalkan budaya lokal kepada orang lain tidaklah mudah. Sebab, harus melalui proses panjang. Memastikan bahwa pesan yang hendak disampaikan kepada publik bisa mengendap di hati.  Ditambahkan, ada banyak nilai-nilai etis maupun moral dari dalam budaya Banyuwangi. Namun, ketika menunjukkannya kepada orang membutuhkan strategi tepat, efektif.

Melalui BPAN Daerah Using, lanjut Arief, Banyuwangi punya satu cerita terkait strategi ini. Ketika ulang tahun perdana BPAN dari Banyuwangi,  menggelar  acara menarik. Selain potong tumpeng, sebagaimana lazimnya, digelar mengadakan talk show “Gesah Using Milenial”.  “Harapannya, di Banyuwangi akan banyak muncul forum diskusi kreatif,  serta berbagi cerita, ide, dan gagasan dari orang-orang keren. Lalu semangatnya bisa menular ke orang lain,” tambahnya.

Karena milenial, acara gesah berkonsep modernitas atau pop-culture. Merangkul semua kalangan, berbagai latar belakang. Mulai siswa SMA, mahasiswa, sampai tenaga pendidik. “ Tiga inspirator  yang didatangkan, Vicky Hendri Kurniawan, Nur Holipah, dan kelompok penggiat media sosial kreatif, Byek Banyuwangi,” jelasnya.

Gesah membahas berbagi cerita, pengalaman, inspirasi tentang aksi-aksi pelestarian  budaya lewat cara-cara masa kini. Sehingga, kata Arief, peserta saling belajar, bertukar pengalaman. Sejalan dengan semangat kebersamaan para pemuda adat. Slogannya, “semua orang itu guru, alam raya sekolahku”.

Arief mengisahkan, sosok Vicky, kreator film dokumenter berbagi cerita sumber ide ketika menciptakan sebuah karya. Pendiri Komunitas Banyucindih Creator ini mengaku, sebelum menentukan tema, melihat sesuatu yang sifatnya lokal. Seperti demografi, topografi, dan sifat daerah.

Menurut dia, sesuatu yang lokal mempunyai potensi besar dikembangkan. Hal tersebut membuat Vicky tertarik mengangkat kearifan dan potensi lokal di setiap film garapannya. Hasilnya, dia beberapa kali mendapat penghargaan di tingkat nasional dan internasional.
Karena itu, ia mengajak para pemuda adat agar terus menggali potensi di daerahnya.

Sedangkan Nur Holipah (22) berperan melestarikan budaya leluhurnya dalam bentuk tulisan fiksi. Sejumlah puisi, cerpen, bahkan novel telah ditulis dalam bahasa Using. Dia mengajak pemuda menjadi penulis. Sebab menurut Holip,sapaan akrabnya, tulisan itu abadi. Sekalipun sang pengarang telah tiada, ada jejak yang tak hilang. Sebuah tulisan.

Kata Holip, salah satu cara melestarikan budaya dengan menuangkanya ke dalam karya tulisan. Selain mengangkat Banyuwangi, dia juga membuat cerpen mengangkat unsur lokal daerah lain. Seperti Bali dan Aceh.

Kemudian, media Byek Banyuwangi ikut menjadi inspirator. Media yang sudah berdiri dua tahun ini mengangkat budaya lewat media  yang digandrungi para milenia. Sejarah, tradisi, dan bahasa menjadi konten kreatifnya. Mengedukasi para pengikutnya dalam bermedia sosial.

Aditya Catur Ginanjar, salah satu pendiri Byek Banyuwangi mengaku menurunnya minat pemuda terhadap budaya lokal menjadi alasan komunitas ini lahir. Lunturnya bahasa Using dan sedikit pemahaman tentang adat tradisi, menjadi pelecut semangat. Ada empat penggiat yang  mengunggah berbagai konten informasi tentang budaya.

Sentuhan gaya desain grafis yang selalu mengikuti tren dan sejumlah konten jokes turut diangkat. Sehingga, setiap konten dengan mudah diterima generasi milenial. Aditya berharap melalui medianya, budaya lokal  menjadi tren lagi. Sehingga identitas Lare OUing tidak hilang.

Ketua BPAN Using Kezia Fitriani berharap setelah setahun terbentuk, lembaga ini menjadi salah satu wadah inspirasi, mempererat persaudaraan pemuda adat. Selanjutnya, mempertahankan, melestarikan adat budaya.

Setahun terakhir, BPAN Using berhasil merangkul puluhan pemuda adat. Tersebar di delapan komunitas adat Using Banyuwangi. Mereka melakukan  kegiatan memperkompak, menambah kapasitas pengetahuan para anggota. Yakni, jelajah Using.

Keizia menuturkan, kegiatan jelajah Using merupakan agenda berkumpulnya para anggota. Digelar di komunitas-komunitas adat, bergantian sebulan sekali. BPAN menggelar beberapa kegiatan. Mulai diskusi isu-isu tentang hak-hak masyarakat adat, pelatihan menulis, pendalaman kesenian tradisonal. Dan, terlibat dalam kegiatan tradisi di salah satu komunitas.

“Selain itu, sejak pertengahan tahun lalu, pembentukan sekolah adat di Banyuwangi tengah dicanangkan. Prosesnya, kini masuk dalam pematangan konsep,” pungkasnya. (wid)