Permintaan Kerupuk Ikan ke Bali tetap Tinggi

Permintaan kerupuk ikan ke Bali tetap tinggi. (foto/bb/tin)

Pesanggaran (BisnisBanyuwangi.com) – Kerupuk, camilan renyah yang murah meriah. Usaha kerupuk  masih dianggap menjanjikan. Hal ini diakui Semi, pembuat kerupuk di kawasan Desa Sumbergaung, Kecamatan Pesanggaran.  Wanita yang sudah bercucu ini mengaku lebih senang dengan usaha kerupuk. Sebelumnya, dia merintis usaha roti di Bali. Namun, pasca-bom Bali, usahanya bangkrut. Semi memilih bekerja ke luar negeri. Setelah pulang kampung, merintis usaha kerupuk, tahun 2014.

Kerupuk yang diproduksi jenis ikan bawang. Proses produksi, dibantu 2 tenaga tukang masak, 6 tenaga jemur dan 1 tukang iris. Tiap hari, produksi sebanyak 40 kilogram kerupuk kering.

Bahan yang dibutuhkan, selain tepung tapioka, juga tepung gandum. Bahkan, ikan lemuru dan bawang putih. Untuk menghasilkan 40 kilogram kerupuk ikan kering, Semi memakai bahan baku 3 kilogram ikan lemuru segar dan 3 kilogram bawang putih.

Proses penjemuran masih mengandalkan sinar matahari. “Selain cuaca, kendala usaha kerupuk ini kenaikan bahan baku,” ungkapnya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Jika cuaca sedang tak bersahabat, Semi terpaksa libur membuat kerupuk. Di tengah harga bahan baku yang kian melambung, terutama bawang putih, Semi tak berani mengurangi porsi. “Kalau soal resep atau porsi bumbu tak bisa dikurangi, karena berpengaruh ke rasa,” ungkapnya. Semi mengaku sangat mengutamakan rasa. Sesuai label yang dia pilih, “Nyata Rasa”. Rasa gurih kerupuk ikan buatannya, begitu terasa.

Untuk menyiasati harga bawng mahal, Semi tak menjual kerupuknya dalam bentuk mentah. “Jika harga bawang putih di atas Rp 30.000, saya tak berani jual kerupuk dalam bentuk mentah,” ungkapnya. Kawasan Banyuwangi, harga kerupuk Rp 20.000 per kilogram. Sementara untuk Bali, dibandrol Rp 30.000 per kilogram. Selain di kawasan Banyuwangi, Semi banyak pesanan kerupuk dari Bali. Saat ini, pihaknya mengaku kewalahan melayani permintaan dari Bali. Dari usaha ini Semi mengaku bisa mendapat omzet Rp 10 juta per bulan. (tin)