Ketua DPC Perwira Banyuwangi, Siti Istiqomah, S.E, Ajak Kaum Perempuan Melek Usaha

Siti Istiqomah, S.E.(foto/bb)

Kabat (BisnisBanyuwangi.com) – DIKENAL bertanggungjawab, berkomitmen tinggi, sosok perempuan satu ini layak mendapat acungan jempol. Jiwa sosial menghantarkannya selalu berbagi dalam menjalani liku-liku kehidupan. Berkat didikan orang tua, menjadikannya mandiri. Dialah, Siti  Istiqomah, S.E, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Perkumpulan Perempuan Wirausaha  Indonesia (DPC Perwira) Banyuwangi. Bersama organisasi yang digawangi, dia ingin mengajak kaum perempuan di Bumi Blambangan mandiri ekonomi. Salah satunya, dengan melek usaha.

Senyum, kesan itu yang selalu terpancar ketika bertemu Isti, panggilan akrab wanita kelahiran Desa Kalipahit, Kecamatan Tegaldlimo ini. Masa kecilnya, tergolong tomboy. Putri pasangan Basuki Ratman dan Marsini ini memiliki dua sisi berbeda dari ayah dan ibunya. Kedua sisi itu, dia kembangkan. Hasilnya, membentuk pribadi tegas, namun lembut.

Perempuan kelahiran tahun 1966 dikenal sebagai pribadi unik. Sejak kecil, Isti sudah akrab dengan senjata bedil. Ketika masih SD, dia selalu diajari menembak dan naik kuda. Kegiatan itu berlangsung setiap pulang sekolah. Sang bapak mewajibkannya berlatih menembak.

Maklum, kala itu, warga sipil masih bebas memegang senjata. Hingga akhrnya, muncul larangan warga sipil memiliki senjata api. Saat latihan menembak, kaleng yang digantung di atas pohon mangga menjadi sasaran.  “Ya, seru aja kala itu. Dimana anak-anak perempuan biasa dengan boneka, saya malah berkutat dengan senjata,” kenangnya saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi di rumahnya, Perumahan TPI, Dadapan, Kecamatan Kabat, pekan lalu.

Isti mengisahkan, awalnya, dia dipegangi senjata laras panjang. Setelah dianggap mahir, dialihkan memegang pistol. Sasaran tembaknya berubah. Ayam yang berlarian. Latihan menembak yang dilakoninya seiring profesi sang ayah, seorang TNI AD dan intelijen. Tak hanya bermain senjata, Isti juga dikenal hobi motor balap. Namun, saat balapan, dilakukan sembunyi-sembunyi. Sebab, orang tuanya melarang.

Di balik sikap tomboy, Isti ternyata penurut. Wajar, jika di sekolah maupun rumah, banyak yang menyayangi. “ Saya selalu disayangi guru, karena aktif kegiatan sekolah, terutama Pramuka,” kenang putri nomor 9 dari 12 bersaudara ini.

Pramuka, kata Isti, menjadi aktivitas yang tak pernah lepas sejak duduk di bangku SD. Menurutnya, Pramuka mengajarkan hidup mandiri. Dia pun selalu didapuk menjadi ketua. Dari sinilah, jiwa sosial dan berorganisasi tumbuh, terus terasah.

Sejak SD, Isti juga paling gemar membaca. Koleksi buku di perpustakaan dilahapnya. Tak jarang, dia mengulang membaca buku yang pernah dibaca. Sering membaca, membuatnya menyulam mimpi yang tinggi. Melihat kota-kota besar, membaca tentang mobil hingga pesawat. Yang unik, Isti kecil menancapkan mimpi-mimpinya itu di atas pohon kelapa. Ditulis menggunakan bahasa Inggris. Anehnya, semua mimpi-mimpinya terwujud.

Seluruhnya, berkat membaca.  “Memang benar jika membaca itu jendela dunia. Dengan membaca, kita bisa memiliki mimpi dan membangun imajinasi. Jika sekarang saya bisa mewujudkan mimpi – mimpi itu, saya langsung ingat masa kecil sambil pegang buku,” ungkap perempuan yang bercita-cita menjadi insinyur pertanian ini.

Bagi Isti, sosok paling dicintai adalah sang ibu. Sebab, sosoknya selalu tegar. Taat kepada suami. Mencintai anak-anak dan keluarga dengan penuh welas asih. Dari sinilah, Isti memiliki dua karakter berbeda. Menjadi pribadi tangguh, bertanggungjawab. Sekaligus, wanita welas asih, penuh kelembutan.

Isti memiliki momen keluarga yang tak pernah terlupakan. Kala itu, keluarga besarnya berkumpul. Sang ayah memberi wejangan tentang sosok ibu. Selalu mampu menempatkan posisinya. Meski lebih mampu secara finansial, sang ibu menjadi tauladan bagi anak-anaknya. Terutama, menempatkan posisi di hadapan suami dan keluarga.

Suatu hari, lanjut Isti, sang ayah mengatakan jika dirinya kelak menjadi pemimpin bertanggungjawab, harus pasang dada bagi seluruh anggota. Ungkapan sang ayah terbukti. Isti selalu aktif dalam beragam organisasi. Sikap “petarung” yang dimiliki, warisan sang ayah. Sedangkan, kelembutan menurun dari sang ibu. Saking cintanya pada sosok ibu, Isti membuat puisi kecil tentang ibu dalam skripsinya.  “Ibu, kau bagai dian yang tak kunjung padam, di setiap langkahku,” ujar Isti mengutip puisinya. Yang unik, ketika ujian, justru puisi itu yang dibahas dosen.

Menurut Isti, sosok ibu yang menginspirasi, dijadikannya kekuatan. Baginya, ibu dan ayah menjadi sosok yang selalu mewarnai kehidupannya. Didikan orang tua, bagi perempuan satu putri ini, memberinya pelajaran dalam menapaki liku kehidupan. Tak hanya manis, kehidupan pahit bisa dinikmatinya dengan racikan manis. Salah satu yang menjadi mottonya, ketidaknyamanan adalah langkah lain menjadi lebih produktif. Caranya, selalu menata diri.  Menjadikan energi negatif menjadi positif.

Dari pengalaman itulah, sejak kecil hingga sekarang, Isti selalu belajar menjalani hidup lebih baik, bermanfaat. Berbagi bersama. Kala masih di  desa, Isti remaja kerap sang ayah membawa TV ke Alas Purwo, memberi tontonan bagi warga. “ Setiap minggu saya membawa TV ke Alas Purwo. Dari situlah, pelajaran berbagi tumbuh,” kenangnya.

Isti mengaku, jiwanya lebih senang dengan dunia pemberdayaan. Banyak kegiatan pemberdayaan yang dilakukanya. Mulai menggelar pengajian bersama anak-anak kegiatan bersama ibu-ibu dan lainnya. Termasuk, organisasi formal lain. Dari itu, perempuan yang tak tertarik dengan politik ini selalu akrab dengan organisasi pemberdayaan. Khususnya, sosial dan ekonomi.  “Hidup yang berarti itu, bagi saya adalah saat kita bermanfaat bagi orang lain. Saat kita bisa berkarya dan tidak merugikan orang lain,” tegasnya.

Selama ini, Isti tidak terlalu memikirkan tentang target yang muluk-muluk. Dia, selalu mengutamakan proses yang baik, penuh tanggungjawab. Soal hasil, dia jadikan bonus. Terpenting, baginya, berusaha sebaik mungkin. Semangat ini dibuktikan ketika didaulat menjadi Ketua DPC Perwira Banyuwangi. Melalui organisasi Perwira, alumni perguruan tinggi di Jember ini mengajak kaum perempuan mandiri secara ekonomi. Keinginan terbesarnya, mewujudkan perekonomian anggota dan masyarakat mandiri secara ekonomi. Sehingga dengan wadah Perwira , ia bisa bekerja, berkomunikasi, koordinasi .

“Saat ini pengurus saja ada 38 dengan banyak bidang. Karena Perwira memiliki banyak ruang market,” jelasnya. Perwira  kata dia, ada di 34 provinsi. Setiap provinsi ada banyak Kabupaten. Masing-masing kabupaten memiliki outlet. Artinya, kata dia, bisa kerjasama skala domestik. “ Kami tinggal mengemas bagaimana meningkatkan mutu, kemasan  dan lainnya,” ungkap ibunda dari Kirana tersebut.

Karena Perwira bukan kelompok sosialita, kata dia, setiap DPC organisasinya aktif, berkembang. Isti berharap, juga bisa dilakukan di Banyuwangi. Terbaru, Perwira mulai melakukan kerjasama dengan UMKM, guide travel, Pokdarwis, lembaga pemerintah dan swasta. Tujuannya, membangun Perwira lebih aktif dan inovatif. “Harapannya, semua pihak terkait parwisata bisa bekerjasama, sinergi. Mampu mengembangkan potensi produk di Banyuwangi,” pungkas perempuan penyuka rujak dan tidak suka kemunafikan tersebut. (wid)