Terganjal Hujan, Produksi Manisan Ngadat

Pengrajin manisan di Desa Pesucen mengeluhkan ngadatnya produksi akibat cuaca. (foto/bb/udi)

Kalipuro (BisnisBanyuwangi.com) – KERAJINAN manisan di Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro, mulai dikenal. Sayangnya, proses produksi kerajinan camilan ini maish tergantung cuaca. Ketika hujan, proses produksi ngadat. Bahkan, banyak yang berhenti. Pemicunya, para pengrajin hanya mengandalkan panas sinar matahari. Saat hujan, selain pengeringan susah, manisan rawan jamuran, rusak.

Peralatan pengeringan yang digunakan pengrajin juga sangat sederhana. Masih tradisional. “ Jadi, kalau hujan seperti ini, produksi berhenti. Daripada rusak. Idealnya, kami memang memiliki rumah kaca,” kata Yunawiyah, salah satu pengrajin manisan kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Wanita ini menjelaskan, pihaknya bersama para pengrajin lain pernah mengajukan bantuan rumah kaca. Sehingga, proses produksi tidak terganggu cuaca. Manisan yang dijemur juga terjamin kebersihannya. Namun, kata dia, hingga kini, belum ada kejelasan terkait bantuan rumah kaca tersebut. “ Setidaknya, kalau ada rumah kaca, kami bisa tetap produksi, meski hujan,” ujarnya. Selain itu, rumah kaca bisa mempercepat pengeringan. Sehingga, produksi manisan bisa digenjot maksimal.

Menurut Yunawiyah, manisan buah produksi Desa Pesucen sudah dikenal publik. Bahkan, hingga keluar daerah. Selain pasar lokal Banyuwangi, manisan buah Pesucen banyak dikirim ke Surabaya, Sidoarjo dan beberapa kota di sekitar Banyuwangi. “ Kami menjualnya via online. Lalu, dititipkan juga ke toko-toko,” ujarnya. Kerajinan manisan buah ini, kata dia, merupakan warisan turun temurun. Dia mengaku sebagai generasi ketiga  produsen manisan di desanya. Kini, total pengrajin manisan di desa ini mencapai 20 orang. Seluruhnya masih mengandalkan penjemuran dengan peralatan tradisional. Di tepi jalan yang terbuka.

Sedikitnya ada delapan jenis manisan buah yang dikembangkan di desa ini. Mulai pala, cermai, asam Jawa, mangga, belimbing wuluh, pepaya, nanas dan tomat. Manisan tomat yang ini terbaru.  Rasanya mirip buah kurma. Manis, sedikit asam. Dari sekian jenis manisan, kata Yunawiyah, manisan pala dan cermai yang paling laris. Pasokan bahan bakunya juga melimpah. Bisa didapatkan sepanjang tahun. Berbeda dengan jenis buah lain yang hanya menunggu musim.

Dari sekian pengrajin, total produksi bisa mencapai sekitar 2 ton per bulan. “ Tapi, kalau hujan terus, produksi anjlok total. Padahal, permintaan terus mengalir, terutama jelang Lebaran,” jelasnya. Proses pembuatan manisan ini murni tradisional. Prosesnya cukup panjang. Dimulai pemotongan bahan hingga perebusan dengan air gula membutuhkan waktu hingga 10 jam. Lalu, proses pengeringan. Paling cepat 6 hari. Jika mendung, bisa 9 hari. “ Kalau kondisi normal, 10 hari baru jadi manisan,” jelasnya. Karena tanpa pengawet, manisan Pesucen ini hanya tahan maksimal tujuh bulan. Dijual per kemasan dan per kilogram. Harganya tergantung jenis. Manisan tomat, asam Jawa dan cermai dibandrol Rp 40.000 per kilogram. Sedangkan, manisan pala hanya Rp 25.000 per kilogram. Sementara manisan pepaya dan belimbing dibanderol Rp 35.000 per kilogram. “ Kalau per bungkus kita jual Rp 10.000,” jelasnya. Selain membutuhkan rumah kaca, pengrajin juga berharap ada kerjasama subsidi gula putih. Sehingga, harganya bisa lebih murah. Selama ini, pasokan gula putih diambil dari para pengepul. (udi)