Ketua HIPMI Banyuwangi, Ruth Suhartatik, Dorong Kaum Muda Jadi Pengusaha Mandiri

Bersama pengurus HIPMI Banyuwangi. (foto/bb/dok. pribadi)

Rogojampi (BisnisBanyuwangi.com) – BERKARIR dari bawah, membentuk semangat bisnisnya sangat kuat. Potensi ini yang membuatnya terpilih menggawangi organisasi pengusaha di kalangan pemuda. Berkat talentanya, dia mampu memotivasi kaum muda mau terjun ke dunia usaha. Tak hanya di tingkat lokal, namun merambah pasar nasional. Sosok itu adalah Ruth Suhartatik, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Banyuwangi. Dia tercatat sebagai satu-satunya Ketua HIPMI wanita di Jawa Timur.

Penampilannya santai. Namun, urusan bisnis, menjadi nomor satu. Termasuk, mengajak kaum muda peduli dengan kemandirian. Salah satunya, menjadi pengusaha. “ Banyuwangi itu, menyimpan banyak potensi. Baik sumber alam maupun sumberdaya manusia. Karena itu, kaum muda harus diajak mengolah sumber tersebut dengan terjun menjadi pengusaha,” kata Ruth Suhartatik mengawali perbincangannya dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Wanita yang akrab dipanggil Tatik ini menambahkan sejak didaulat menjadi Ketua HIPMI Banyuwangi, tahun 2015, pihaknya langsung tancap gas. Pertama, bersama timnya, pengusaha properti ini memberikan pendampingan pelaku UMKM di Desa Gintangan, Kecamatan Rogojampi. Tak hanya pelatihan kerajinan anyaman, namun pembuatan beragam perabot berbahan dasar bambu. “ Kala itu, kita datangkan narasumber khusus,” jelasnya.

Setelah pelatihan pelaku UMKM diberikan pendampingan pemasaran hingga pengurusan izin. Dari pengrajin bambu, lanjut Tatik, HIPMI melanjutkan program mencetak wirausahawan muda. Sasarannya, kampus. Hasilnya, dari 12 perguruan tinggi di Banyuwangi, 9 diantaranya sudah bergabung bersama HIPMI. “ Kami diberikan kesempatan mencetak wirausahawan muda dari kampus. Akhirnya terbentuk HIPMI di masing-masing kampus. Anggotanya 25-30 mahasiswa,” ujarnya.

Kenapa memilih kampus ? Menurut Tatik, mahasiswa dianggap sudah cakap untuk mandiri. Lalu, banyak kader-kader handal mahasiswa yang berpotensi didorong menjadi pengusaha. Apalagi, kata dia, Banyuwangi masih kurang para pemuda yang mau terjun ke dunia usaha. “ Padahal, potensinya sangat besar. Saat kita masuk kampus, banyak mahasiswa tertarik menekuni usaha. Mereka kita arahkan menjadi pengusaha mandiri, bukan sekadar makelar,” jelasnya. Fokus menggarap calon pengusaha muda ini, menurutnya, menjadi salah satu program dari HIPMI.

Ternyata, kerja keras HIMPI Banyuwangi tak sia-sia. Awal tahun 2017, HIPMI dari kampus meraih dua penghargaan bidang inovasi produk dari Gubernur Jatim. “ Jadi, HIPMI kampus bisa membuat produk olahan modern. Ini bukti jika potensi pemuda Banyuwangi bisa diandalkan,” imbuhnya. Kini, kata Tatik, tercatat 150-200 mahasiswa menjadi binaan HIPMI. Mereka diajarkan membuat ide usaha, mengelola hingga proses pemasaran.

Bahkan, HIPMI memberikan akses bantuan permodalan. Pengusaha muda dari kampus ini kebanyakan bergerak dalam bidang kuliner dan makanan olahan. Hampir 60 persen mahasiswa laki-laki. Selain kuliner, HIPMI juga masuk ke berbagai sektor lain. Seiring pesatnya perkembangan pariwisata Banyuwangi. Seperti, kerajinan batik. Pihaknya memiliki anggota yang namanya cukup dikenal di dunia batik. Pihaknya berharap, dari kampus akan muncul wirausaha-wirausaha muda yang bisa membesarkan Banyuwangi. Lalu, ikut mendongkrak perekonomian lokal.

Dalam dunia bisnis di Banyuwangi, nama Tatik sudah tak asing lagi. Talenta bisnisnya muncul sejak umur 20 tahun. Berawal dari berdagang baju. Wanita kelahiran Banyuwangi ini juga terbilang ulet. Baginya, jatuh bangun dalam bisnis adalah hal biasa. Satu yang ditekankan bagi kaum muda adalah jangan menunda selagi bisa. Semangat itu yang membuatnya berkibar dalam bisnis di Bumi Blambangan.

Kuelatannya dalam mengelola bisnis membuatnya terpilih secara aklamasi mengkomandoi HIPMI Banyuwangi, tahun 2015. Ketertarikannya masuk ke HIPMI, bukan tanpa sebab. Sebelum menjadi nahkoda HIMPI, Tatik dikenal suka berorganisasi. Diawali bergabung dengan organisasi pengembang, Real Estat Indonesia (REI) Banyuwangi. Dari situlah, semangatnya berorganisasi terus terasah. Hingga, didaulat menjadi orang nomor satu di HIPMI Banyuwangi. Di bawah komandonya, sebanyak 200 pengusaha muda bergabung. Jenis usahanya beragam. Mulai properti, perikanan hingga pertambangan.

Menurut Tatik, HIPMI adalah organisasi interpreneur muda, humanis, tak tergantung APBD. Tanpa membedakan tingkatan dan jenis usahanya. Justru, dalam organisasi ini, setiap anggota bisa saling sharing. Tatik akan mengakhiri masa jabatan sebagai Ketua HIPMI Banyuwangi, akhir tahun 2018. Tapuk pimpinan akan dilanjutkan oleh kader-kader di bawahnya.

Menggawangi organisasi dengan banyak anggota, kata Tatik, tentu memiliki suka duka. Namun, semuanya dijalani dengan iklas. “ Sukanya itu, HIPMI bisa mandiri. Tidak terikat siapapun. Dan, bisa ikut mengembangkan ekonomi kreatif,” jelasnya. Sedangkan dukanya, kata Tatik, tak jarang, muncul pandangan miring tentang kiprahnya mengembangkan organisasi. Apalagi, mayoritas anggotanya adalah kaum laki-laki.

Sibuk berbisnis dan menggawangi HIPMI, tak membuat Tatik meninggalkan kodratnya sebagai ibu rumah tangga. Baginya, keluarga tetap nomor satu. “ Meski sibuk, kita harus bisa mengatur waktu untuk keluarga,” pungkasnya. (udi)