Komunitas Banyuwangi Berkebun, Motivasi Ibu-ibu Manfaatkan Pekarangan

Tim Banyuwangi Berkebun di bawah Dinas PU. (foto/bb/wid)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – SUKSES menjadi tuan rumah Konferensi ke IV Indonesia Berkebun tahun 2016, Banyuwangi Berkebun di bawah naungan Dinas PU Cipta Marga dan Tata Ruang Banyuwangi tak pernah berhenti melakukan penghijauan dengan berkebun.  Termasuk, melakukan gerakan peduli lingkungan dan perkotaan melalui program urban farming.

Terbaru, Banyuwangi Berkebun di bawah  Bidang Taman PU ini memberikan pelatihan kepada ibu-ibu Dharma Wanita dan karyawati. Total 125 orang, di aula PU, pekan lalu. Peserta diberikan pelatihan pemanfaatan lahan terbatas. Fokusnya, inovasi berkebun.

Kabid Penataan Ruang PU, Bayu Hadiyanto mengatakan pelatihan ini upaya pemanfaatan ruang terbatas bagi pegiat lingkungan maupun masyarakat perkotaan. Sehingga, bisa menambah nilai ekonomi bagi masyarakat. Sekaligus, menjaga ekologi serta edukasi bagi masyarakat lain.

Target kegiatan ini, jelas Bayu, bisa memunculkan pegiat-pegiat lingkungan. Khususnya,  kalangan ibu rumah tangga. Baik yang bekerja maupun yang tidak bekerja. Sehingga, mereka bisa mandiri secara ekonomi. Sebab, mampu memanfaatkan lahan di sekitar rumah dengan aneka tanaman bermanfaat. “Pelatihan kompetensi pertamanan sengaja mengambil ibu-ibu, karena mereka lebih kreatif. Sehingga bisa diterapkan dan bisa memicu ibu-ibu lain melakukan hal yang sama, berkebun di rumah,” kata Bayu kepada Bisnis Banyuwangi.

Bayu menambahkan, selain ibu-ibu, narasumber yang dihadirkan pun perempuan. Ia sengaja mengajak tim Kepala Sekolah Akademi Berkebun dari Banten  dan pegiat Bali Berkebun. Materinya, cara berinovasi, sekaligus praktik. “Ya, kami sengaja menggandeng ibu Ida Amal, dari Akademi berkebun Banten dan pegiat Bali Berkebun, Idnul Fitria untuk support kegiatan. Peserta bisa menerapkan di rumah,” jelasnya.

Target dari pelatihan, kata dia, masyarakat diharapkan tidak terjebak dengan lahan luas untuk berkebun. Karena, lahan  sempit pun, seperti di daerah perkotaan juga bisa dijadikan objek berkebun. Baik dengan  media hidroponik,  aquaponik dan lainnya.

Saat ini, kata Bayu, Banyuwangi baru ada 4 komunitas atau kelompok binaan Banyuwangi Berkebun. Mereka aktif mengembangkan konsep pemanfaatan lahan terbatas. Masing-masing, GOR Tawang Alun, Glagah, Blimbingsari dan Banyuwangi.

“Di Banyuwangi baru ada 4, E-park di GOR TawangAlun,Kebun Watukebo ( Blimbingsari), kebun Pakis Asri, Sumberejo dan Kebun Singhing di Glagah” ujarnya.

E-Park, menurut Bayu, merupakan taman kota. Dahulu lahan tidak produktif. Taman ini dikembangkan di atas lahan seluas 2.000 meter persegi. Disebut e-Park, karena berfungsi sebagai sarana ekologi, edukasi dan ekonomi bagi masyarakat.

Setiap hari, taman ini banyak dikunjungi. Bukan hanya sekadar menikmati hijaunya taman, banyak kalangan belajar membuat taman di lahan pekarangan.

Di taman ini disuguhkan pemandangan sebuah lahan terbatas bisa dimanfaatkan menjadi taman yang asri. Mulai dari tanaman hidroponik, pengelolaan terintegrasi kotoran ternak menjadi pupuk tanaman, hingga cara memelihara tanaman organik.

Pihaknya juga menggelar lomba taman kantor dan taman lingkungan. Tujuannya, pemenuhan ruang terbuka hijau (RTH) yang diamantkan oleh Undang-Undang  Nomor 26/ 2006, tentang Penataan Ruang.  RTH dikawasan perkotaan harus mencukupi hingga 30 persen. Sementara  RTH Publik 20 persen dan RTH privat, seperti perkantoran dan lingkungan sebesar 10 persen. Banyuwangi baru menyentuh sekitar 15 persen untuk RTH Perkotaan.

“Karena pertamanan masih baru di PU, kami berupaya  membuat kegiatan pembekalan ini dengan ibu-ibu. Kedepan, dengan komunitas-komunitas yang selama ini sudah melakukan aksi nyata dalam berkebun,” pungkasnya. (wid)