Bakso Kebo-keboan, Hitam, tapi Bikin Ketagihan

Pengunjung di Kedai Bakso Osing yang selalu ramai. (foto/bb/wid)

Gambiran (BisnisBanyuwangi.com) – KULINER bakso, menjadi santapan yang favorit bagi sebagian kalangan. Seiring ketatnya persaingan usaha bakso, para pedagang dituntut kreatif. Membuat bakso yang unik. Sehingga, mengudang rasa penasaran. Bakso Kebo-keboan salah satunya. Varian bakso nyentrik ini ditawarkan kedaksi Bakso Osing di kawasan Jajag, Kecamatan Gambiran.

Sesuai namanya, bakso Kebo-keboan warnanya hitam. Menu ini bagi yang suka pedas. Selain Kebo-keboan, ada juga bakso kobong. Warnanya sama-sama hitam. Kuah baksonya ditawarkan dua pilihan. Kuah original bening dan gurih. Jika ingin lebih menantang, bisa pilih kuah lombok lithik. Warnanya merah. Bahannya cabai rawit, super pedas.

Menurut Anis Setyowati, pemilik kedai Bakso Osing, warna hitam pada bakso Kebo-keboan didapatkan dari arang bambu Jepang.  Sehingga aman dikonsumsi. Dalam bakso Kebo-keboan juga diisi pasta cabai, dicampur cacahan urat daging sapi.

 “Biar mantap, adonan bakso Kebo-keboan juga dicampur dengan cabai yang dihaluskan. Jadi dagingnya, dalamnya dan juga kuahnya pedas semua. Tapi kalau mau kuahnya yang original juga nggak apa-apa,” katanya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Selain itu, ada varian bakso lain yang patut dicoba, yakni bakso slodok. Bahannya, iga sapi, dibalut daging bakso. Bakso berukuran jumbo ini sangat terasa dagingnya. Apalagi daging sapi yang menempel di iga membuat rasa slodok menjadi istimewa.

“Kalau daging dan iga yang kita gunakan adalah pilihan. Rata-rata dalam satu hari kita habiskan 25 kilogram daging dan 16 kilogram cabai rawit.Tapi saat akhir pekan atau hari libur jumlahnya bisa bertambah,” jelas Anis.

Bagi pelanggan yang tidak suka pedas, bisa memilih bakso varian lain.  Ada original atau isi keju. Total ada sembilan varian bakso. Harganya berkisar Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per porsi. Sementara, sayur dan mie digratiskan. Pengunjung bisa mengambil sepuasnya.

Anis menambahkan bakso yang dijual terinspirasi dari nama-nama tradisi dan tempat wisata di Banyuwangi. Ia mencontohkan, bakso Kebo-keboan. Terinspirasi dari tradisi Kebo-keboan di Alasmalang, Singonjuruh.

“Jadi itu yang menginspirasi bakso Kebo-keboan. Ada juga bakso jenggirat tangi, curah krakal. Kami sertakan juga tempat wisata di Banyuwangi. Jadi yang datang ke sini bukan hanya makan bakso, tapi juga mengenal budaya, tradisi Banyuwangi,” ungkapnya.

Mundur dari  pegawai dan memilih menjadi juragan bakso adalah keputusan Anis Setyowati dan suaminya, Romi Priya. Mereka keluar dari pekerjaan di bidang asuransi. Lalu, mengelola kedai bakso yang dirintis sejak setahun terakhir.

Awalnya, Anis lebih dulu berhenti bekerja. Kemudian, membuka kedai bakso. Alasannya agar lebih dekat dengan kedua anaknya. Selama ini, dia merasa sering meninggalkan kedua anaknya dengan alasan bekerja.

“Saya banyak kehilangan waktu dengan anak-anak. Akhirnya saya memutuskan berhenti bekerja. Sebelumnya saya dan suami sama-sama bekerja di asuransi, sehingga sering tidak di rumah,” jelas Anis.

Hal senada juga diceritakan Romi Priya. Karir cemerlang di kantor lamanya dia tinggalkan.  Memilih mengelola kedai bakso bersama dengan istrinya.

“Selama ini kan jadi pegawai, tapi sekarang jadi juragan, walau kecil-kecilan. Usaha milik sendiri. Tapi minimal saya semakin dekat dengan keluarga,” katanya Romi. Dia bercerita, sejak masih bekerja di asuransi, istrinya sering menerima orderan masakan, serta catering. Terutama bakso. Apalagi saat Lebaran, istrinya bisa menerima pesanan hingga puluhan kilogram bakso. Istrinya juga sempat berbisnis makanan kering. Seperti sayur sup, sayur asem yang dijual per porsi. (wid)