Desa Sukomaju, Pusatnya Gurame dan Olahannya

Kades Sukomaju, Sishadi Wiyono. (foto/bb/tin)

Srono (BisnisBanyuwangi.com) – MEMILIKI air melimpah, Desa Sukamaju, Kecamatan Srono, memiliki ide kreatif. Warga desa ini mengembangkan budidaya gurame. Tak hanya  menghasilkan ikan, warga juga mengolah gurame menjadi aneka makanan ringan. Potensi ini membuat desa di selatan Kota Banyuwangi tersebut dikenal sebagai pusatnya ikan gurame.

Budidaya gurame dikembangkan di Dusun Sukorejo, Desa Sukomaju. Kawasan ini dikenal sebagai Kampung Gurame. Di kampung ini banyak pelaku usaha budidaya gurame. Tak hanya menyuplai konsumsi ikan segar, warga mulai kreatif. Ikan gurame diolah menjadi  krispi. Kepala Desa Sukomaju Sishadi Wiyono menuturkan usaha budidaya gurame ini sempat berkembang pesat tahun 2007. Namun, tahun 2011 usaha budidaya berangsur surut, seiring banyaknya pelaku usaha yang gulung tikar. “Kini warga setempat kembali bangkit dengan kembali membudidaya gurame,” ucapnya kepada Bisnis Banyuwangi, belum lama ini.

Menurut Sishadi, munculnya budidaya gurame turut meningkatkan ekonomi warga. Pihaknya mendukung penuh kegiatan tersebut.  Pihak desa memberikan keterampilan budidaya gurame melalui kegiatan pelatihan  tahun 2017. Menggandeng Dinas Perikanan Banyuwangi. Apalagi, kini, warga setempat juga mulai kreatif. Membuat olahan gurame. “Ini tentu menjadi hal baru,” ucapnya.

Untuk mengukuhkan potensi gurame ini, pihaknya bersama warga akan menghelat kegiatan Syukur Gurame di Kampung Gurame. “Rencananya April mendatang, bersamaan dengan Hari Jadi Sukomaju ke-18,” lanjut Sishadi. Ke depan, pihaknya tertantang mengajak warga merintis kampung gurame sebagai kawasan wisata. Sehingga perlu kesiapan warga dalam hal budidaya dan olahannya.

Selain potensi gurame, Desa Sukomaju juga memiliki potensi lain. Yakni, usaha pembibitan. Pusat usaha pembibitan ini, kata Sishadi, berada di Dusun Kaligoro. Usaha pembibitan ini, banyak dikembangkan warga setempat sejak enam tahun silam. “Kini ada 15 tempat persemaian, dikelola kelompok  tani wanita,” tandasnya.

Proses persemaian cukup modern, dengan sistem green house. Tak hanya bibit cabai, beragam bibit tanaman holti dikembangkan. Kini pemasaran bibit meluas ke Jember, Bondowoso dan Banyuwangi.   Adanya usaha persemaian ini banyak menyerap lapangan kerja. Otomatis  berdampak pada peningkatan ekonomi warga setempat. (tin)

Gurame Krispi Tembus Jakarta

BAGI warga Desa Sukomaju,  budidaya gurame, bisa dijadikan penopang ekonomi. Nasikin, salah satu pembudidaya gurame yang masih bertahan. Usaha budidaya ini mulai dilakoni sejak tahun 2010. Dia menekuni budidaya gurame sejak tahun 2000 sampai tahun 2004, kemudian fakum. Dia kembali memulai usaha budidaya tahun 2010. Berawal dari 4 kolam, kini meluas menjadi 11 kolam. Luasnya, 1 hektar. “Prospek usaha gurame ini menurut saya sangat bagus,” ungkapnya kepada Bisnis Banyuwangi.

Kegiatan budidaya gurame ini dilakukan bersama kelompok Mina Elang Buana. Harga jual jual gurame, kata dia, selalu bagus. Kini berkisar Rp 40.000 per kilogram. Permintaan gurame pun terus mengalir. Tiap hari Nasikin menyuplai gurame ke hotel, rumah makan dan restoran di seluruh Banyuwangi.

Kini, Nasikin merawat 100.000 gurame. Sebagian masih usia 4 bulan, beberapa siap panen. Selain gurame, ada juga patin dan koi. Selain pembesaran, pihaknya juga melayani permintaan gurame siap konsumsi. Serta menyediakan bibit gurami. “Bibit gurame seukuran satu jari, dihargai Rp 800 per ekor,” ucapnya.

Budidaya gurame, menurutnya gampang-gampang susah. “Kuncinya harus telaten,” tandasnya. Selain pakan rutin, kolam harus rajin dibersihkan. Masa budidaya 1 tahun, gurame bisa panen.

Selain menjual ikan segar, warga setempat juga kreatif membuat olahan krispi gurami. Usaha olahan ini dilakoni Dadang Setiawan dan Haris Effendi. “Adanya olahan gurame ini untuk meningkatkan nilai jual,” kata Dadang kepada Bisnis Banyuwangi. Berangkat dari hobi masak, Dadang coba-coba membuat olahan gurame krispi, sejak November 2017.

Dia mengawali usaha ini dari modal Rp 2 juta. Dadang sengaja memanfaatkan pasokan gurame yang cukup banyak. Apalagi dirinya juga budidaya gurame bersama kelompok Mina Tirta Arum. Olahan gurame krispi ini tersedia tiga varian rasa. Original, pedas manis dan ekstra pedas. Menurut Dadang peminat gurame krispi ini cukup ramai. Dirinya dibantu sang kawan membidik pasar online. Permintaan tembus Jakarta dan Surabaya. Rasanya renyah dan gurih. Gurame krispi terbuat dari daging gurame, diiris tipis. Lalu, dibumbui dan digoreng dengan tepung. Kini, per hari dirinya bisa mengolah 8 kilogram gurame segar menjadi 30 bungkus. “Tujuan kami, ingin berdayakan masyarakat setempat dan kami berharap kreativitas ini bisa menularkan ke warga lain,” ucap pria jebolan Manajemen Pendidikan UNESA Surabaya ini. (tin)