Di Gombengsari, Kopi Dicampur Cokelat Lokal

Nita Senduk, pemilik GNC yang menawarkan wisata kopi di Gombengsari. (foto/bb/wid)

Kalipuro (BisnisBanyuwangi.com) – BISNIS kopi sedang menjadi primadona. Seiring menjamurnya budaya ngopi yang makin populer di Banyuwangi, muncullah banyak kafe, menyediakan kopi lokal. Namun, kualitasnya layak menjadi produk  bermutu di pasaran. Lokasi ngopi juga menentukan. Seperti ditawarkan Nita Senduk, pemilik Gombeng Nirvana Coffe (GNC), Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro.  Di tempat ini, pelanggan bisa memilih beragam jenis kopi. Seperti  robusta, excels, juga kopi konoga, togosari dan lainnya.

Wanita ini bercerita, sejak nenek moyangnya, warga setempat sudah menjadi petani kopi. Tapi, sentra kopi ini baru dikenal belakangan, saat budaya ngopi mulai populer. Namun, bagi warga setempat, lebih suka kopi jenis konoga. Alasannya, kopi konoga memiliki rasa dan aroma manis. Bahkan, kopi konoga juga lebih disukai luwak. Aromanya enak. Biji kopinya lembut. Sehingga luwak lebih memilih konoga daripada robusta. Sementara, bagi wisatawan lebih banyak menyukai kopi lanang.

Selain kopi, di kafe ini menyediakan kopi  cokelat. Diolah dari perkebunan rakyat Gombengsari . Kopi robusta dan eselsa milik Nita, diolah dengan cokelat lokal. Dari hasil racikannya, pengunjung bisa menikmat kopi dengan rasa cokelat. Gurihnya, bisa dibayangkan.

Satu kemasan kopi cokelat, berat 250 gram, dibandrol seharga Rp 50.000 hingga Rp 70.000. Harga seduhan siap minum, satu gelas isi 150 mili liter dihargai Rp 15.000.

“Kami juga menjual produk kopi lokal Gombengsari, agar bisa saling mendukung. Ada  Kopi Lego, Seblang dan Casela,” katanya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Tidak hanya kopi, istri dari Dadang ini juga menyediakan kuliner rakyat bagi pengunjung. Kuliner tersebut sengaja diambil dari warga. Sehingga, membantu perekonomian warga sekitar. Menu kuliner dipatok mulai Rp 15.000 hingga Rp  50.000 plus jajanan tradisional dan kopi. Semua masuk harga paket per orang.

Sementara, harga kopi roasting (disangrai) dibandrol kisaran Rp 80.000 hingga Rp 120.000 per kilogram.  Sedangkan kopi  grumbling atau siap seduh dijual kisaran Rp 30.000 hingga Rp 50.000 per bungkus.

Tidak hanya fokus pada kopi dan kuliner, perempuan yang berprofesi sebagai pengajar ini juga mengembangkan homestay. Biasanya disukai  pengunjung  dari luar kota. Menurutnya, tujuh ruangan homestay miliknya lebih banyak dihuni  mahasiswa  dan rombongan keluarga  dari luar kota.

Harga sewa homestay dibanrol Rp  200.000 hingga Rp 300.000 per malam. Fasilitasnya,  air panas dan AC serta minuman kopi.

Nita menambahkan, bagi pelanggan lama maupun baru, selalu menyediakan paket  khusus. Pihaknya bekerjasama dengan pokdarwis GNC. Paket wisata yang ditawarkan, dimulai dari GNC, menuju kebun kopi, petik (jika musim panen), coffee break, objek wisata pinus Sumber Manis, air terjun goa pengantin, kambing etawa, sumber gedor, dan mendapatkan souvenir. Di sekretariat GNC, wisatawan diajak melihat proses sangrai kopi rakyat, dan menikmati secangkir kopi. Di tempat itu juga bisa melihat pengrajin anyaman berbahan bambu.

“Di desa ini menyediakan paket-paket wisata. Wisatawan akan disuguhkan suasana pedesaan, spot-spot wisata alam dan edukasi,” pungkas perempuan yang memulai membuka usaha sejak tahun 2017 tersebut. (wid)