Atrit Hinongdorong Hadiatmodjoe, Melukis dari Bilik LP

Acit di samping lukisan hasil karyanya. (foto/bb/udi)

Genteng (BisnisBanyuwangi.com) – MENJALANI cobaan, harus hidup di Lembaga Pemasyarakatan (LP), tak membuat semangat hidup wanita yang satu ini kendur. Justru, banyak hal positif bisa dilakukannya dari bilik LP. Salah satunya, menuangkan kreativitas lewat lukisan. Dialah, Atrit Hinongdorong Hadiatmojoe, nara pidana (napi) LP Banyuwangi yang piawai melukis. Buah karyanya banyak dikoleksi pejabat.

Tak sembarang lukisan, Acit, panggilan akrabnya, membuat lukisan dengan teknik beda. Menggunakan catok kecil, bukan kuas seperti umumnya. Teknik ini dikenal dengan aliran impresionis. Melukis dengan media cat minyak, namun tanpa kuas. “ Ini kegiatan kami di LP. Bisa menyalurkan bakat, sekaligus menghasilkan secara ekonomi,” kata Acit saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Wanita asal Genteng ini mengisahkan, masuk ke LP bukanlah pilihan. Namun, keadaan yang memaksanya. Masuk LP, membuatnya sadar. Kreativitas dimunculkan. Kebetulan, kata Atrit, dirinya memiliki hobi melukis sejak tahun 2011. Pihak LP juga memberikan kesempatan menuangkan kreativitas. Melukis pun dimulai. Lukisan buah karya Acit juga memiliki ciri khas. Temanya, alam. Namun, khusus pemandangan dan perahu. Bukan tanpa alasan. Banyak makna dari goresannya itu. “Pemandangan itu simbol keseimbangan dan kelestarian alam. Kalau perahu, simbol kehidupan di alam ini,” jelentreh Sarjana Hukum tersebut.

Bagi Acit, menjadi pelukis sejatinya bukan cita-citanya sejak kecil. Justru, wanita berdarah Madura-Manado itu sama sekali tak menyukai dunia lukis. Namun, lagi-lagi, keadaan membawanya ke jagat lukisan. Berawal dari menjadi marketing lukisan, dia mulai tertarik menuangkan ide di kanvas. Bahkan, dia sempat berguru ke Ubud, Bali. Lalu, membuka galeri di Labuhanbajo, NTT. Pulang ke Banyuwangi, justru melupakan aktivitas melukis. Dia kembali tertarik melukis begitu masuk ke LP. “ Ini baru sekitar tiga bulan mendalami lukisan lagi. Kebetulan Kepala LP memfasilitasi untuk berkreasi,” ujarnya. Sejak tinggal di LP, Acit sedikitnya sudah menyelesaikan 15 lukisan. Harganya dipatok mulai Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Salah satu lukisannya, sempat dikoleksi istri Bupati Anas, Ipuk Fiestiandani.

Dalam melukis, Acit membutuhkan suasan tenang, rileks. Satu lukisan bisa diselesaikan sehari. Namun, jika hatinya tak gembira, satu lukisan bisa selesai hingga berhari-hari. Dia memanfaatkan waktu siang hari untuk menuangkan ide dalam lukisan. “ Kalau siang kita banyak kegiatan pelatihan.Waktu senggan kita pakai untuk melukis,” jelasnya. Menggunakan catok kecil, cat minyak dan kanvas berukuran besar, Acit menghabiskan hari-harinya.

Dia mengaku akan terus menekuni dunia lukisan saat bebas nanti. Menurutnya, perkembangan pariwisata Banyuwangi, menjadi peluang yang bagus untuk pasar lukisan. Apalagi, dirinya cukup memahami seluk beluk pemasaran seni rupa tersebut. “ Nanti, saya akan membuat galeri lukisan sendiri,” pungkas Acit. (udi)