Diminati, Jasa Ritual Tingkepan

Ritual tingkepan yang mulai ditawarkan dalam paket rias. (foto/bb/udi)

Rogojampi (BisnisBanyuwangi.com) – DI TENGAH gerusan zaman modern, beragam tradisi masih dipertahankan di Banyuwangi. Salah satunya, ritual tingkepan atau tujuh bulanan bayi dalam kandungan. Belakangan, tradisi tingkepan menjadi peluang usaha yang menarik. Sebab, banyak masyarakat yang meminta jasa ritual tingkepan, dikemas layaknya prosesi pernikahan.

Jasa ritual tingkepan ini ditawarkan para perias yang tergabung dalam Himpunan Ahli Rias Pengantin (Harpi) Melati Ranting Rogojampi. Tak sekadar ritual dan mempertahankan tradisi, upacara adat ini dikemas menarik. Sehingga, berkesan bagi sang ibu yang mengandung, termasuk keluarganya.

“ Tradisi tingkepan ini adalah adat yang umum di masyarakat Banyuwangi. Tapi, kami dari Harpi Melati menawarkan paket ritual tingkepan yang dikemas rapi, lengkap sesuai pakem,” kata Ketua Harpi Melati Ranting Rogojampi, Wiwik Sri Sunarsih kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Pemilik sanggar rias “Deva”asal Desa Karangbendo ini mengaku ritual tingkepan lengkap mulai disukai masyarakat. Artinya, sang ibu dirias, lalu menjalani ritual sesuai pakem yang ada. Termasuk, aneka hiasan yang indah. Ritual tingkepan ini dibandrol tak mahal. Jika lengkap, mulai dekorasi, make up hingga MC sekitar Rp 4 jutaan. Namun, harga ini masih bisa nego.

Ritual ini kata Wiwik akan menjadi kegiatan yang berkesan. Apalagi, jika kelahiran anak pertama. Tentunya, bisa diabadikan menjadi momen menarik. “ Memang belakangan mulai diminati. Ini yang sedang kita galakkan di kalangan Harpi,” jelasnya. Tak sekadar membuat kegiatan yang meriah, tingkepan kata Wiwik, salah satu melestarikan tradisi.

Wiji Utami, dalang tingkepan yang juga anggota Harpi Rogojampi menuturkan tingkepan merupakan tradisi kuno bagi ibu hamil. Ritual ini, kata dia, memiliki filosofi mendalam. Tujuannya, mendoakan ibu dan jabang bayi kelak lahir dengan sehat. Dan, menjadi anak yang berguna, berbakti kepada orang tua.

“ Tujuan tingkepan itu sangat mulai. Mendoakan ibu dan bayinya agar sehat, saat lahir anaknya menjadi manusia yang berguna bagi sesama, khususnya orang tua,” kata pemilik sanggar rias “ Bunga Mekar Sari”, Gurit, Desa Pengantigan, Rogojampi ini.

Prosesi tingkepan kata Wiji sedikit rumit. Pertama, ibu bayi duduk di pelaminan. Lalu, dilulur menggunakan bedak harum. Maknanya, mendoakan bayi memiliki watak baik, bertanggungjawab. Kemudian, dimandikan dengan air bunga setaman. Maknanya, sang bayi kelak bisa mengharumkan keluarga. Terakhir, sang ibu berwudu dari air kendi. Maknanya, menyucikan lahir batin sebelum melahirkan.

Ritual dilanjutkan dengan melepas kendit (benang putih) yang dilingkarkan di perut. Maknanya, kelahiran sang jabang bayi agar lancar. Setelah itu, dilanjutkan dengan pecah telur. Tujuannya, proses melahirkan bisa cepat. Lalu, brojolan, melepas kelapa muda melewati depan perut ibu hamil. Tujuannya, mendoakan sang baji bisa lahir dengan baik.

Prosesi dilanjutkan menggunakan baju adat (kain batik dan kebaya), hingga tujuh kali. Maknanya, sang ibu kelak bisa mendidik anaknya. Dan, sang anak bisa menjadi pribadi berwibawa. Terakhir, prosesi pecah kelapa muda. Dilakukan, sang bapak dari jabang bayi. Maknanya, tamu yang belum memiliki cucu bisa segera tertular memiliki momongan. Prosesi diakhiri dengan jualan dawet. Orang tua menjual dawet ke tamu. Membelinya dengan pecahan kendi. Maknanya, setelah melahirkan, tetap bisa dikaruniai anak lagi yang banyak.

Menurut Wiji, seluruh proses ritual tingkepan lengkap bisa berjalan sekitar 1,5 jam. Selama prosesi, ada dalang yang memandu. Menggunakan bahasa Jawa, termasuk iringan langgam Jawa.

Selama prosesi, disiapkan juga ubo rampe atau sesajen lengkap. Mulai tujuh nasi tumpeng, nasi golong (nasi dibentuk bulat), buah-buahan, jenang merah, jenang sengkolo dan ketan lima warna, jenang procot serta pleret. Lalu, ketupat, rujak buah, dawet, daging ayam utuh, ikan air tawar goreng, benang putih dan lampu kambang.

Wiji menambahkan, belajar prosesi tingkepan sejak muda. Dia mulai terjun ke dunia rias pengantin mulai tahun 1985. “ Saya belajar ritual tingkepan ini di kampung. Memang gampang-gampang susah,” ujarnya. Tingkepan kata dia dilakukan pagi hari, sebelum tanggal 15 dalam penanggalan Jawa. (udi)