Harpi Melati Ranting Rogojampi, Pertahankan Pakem Pengantin Lokal

Personel Harpi Melati Rogojampi. (foto/bb/udi)

Rogojampi (BisnisBanyuwangi.com) – KEBERSAMAAN, saling berbagi dan mengembangkan kreativitas menjadi pupuk berkembangnya organisasi. Motto ini selalu dipegang para perias yang tergabung dalam Himpunan Ahli Rias Pengantin (Harpi) Melati Ranting Rogojampi. Organisasi yang dikukuhkan sejak 2010 ini, eksis mempertahankan beragam potensi riasan lokal. Khususnya, pengantin. Meski begitu, riasan gaya modern dan muslimah juga ikut dikembangkan, mengikuti perkembangan zaman. Dalam organisasi ini, tak sekadar ngumpul. Sharing dan berbagi  ilmu tata rias menjadi kegiatan utama.

Harpi Melati Ranting Rogojampi berada di bawah Harpi Kabupaten Banyuwangi. Organisasi ini berskala nasional. Sesuai motto organisasi, Harpi Melati Ranting Rogojampi selalu mengutamakan kebersamaan, silaturahmi. Kegiatan ini dipupuk dengan menggelar arisan keliling rutin, sebulan sekali. Arisan ini bergiliran di rumah masing-masing anggota. Tak sekadar bertemu atau bersosialita, setiap pertemuan selalu diisi kegiatan bermanfaaat. “ Pertemuan keliling digelar sebulan sekali. Intinya silaturahmi dan saling berbagi ilmu. Suasana juga dibuat religius,” kata Ketua Harpi Melati Ranting Rogojampi, Wiwik Sri Sunarsih kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Pemilik sanggar rias “Deva” di Desa Karangbendo ini menambahkan jumlah anggota Harpi Melati Ranting Rogojampi sebanyak 42 perias. Mereka berasal dari Rogojampi, Blimbingsari, Singojuruh dan Kabat. Menurut Wiwik, pertemuan rutin menjadi agenda wajib setiap anggota. Sebab, dalam setiap pertemuan akan digelar beragam sharing pengetahuan. Mulai tata rias, praktik sanggul hingga pembelajaran pakem riasan lokal. Seperti, pengantin Using. “ Terkadang kita juga isi dengan pengajian dan santunan yatim piatu,” jelasnya.

Pihaknya juga mengajak anggota mengikuti seminar, baik tingkat kabupaten maupun luar kota. Tujuannya, kata Wiwik, meningkatkan kemampuan dan kreativitas para anggota. Dari seringnya sharing pengetahuan rias, pihaknya pernah menjadi juara 2 dan harapan 1 dalam ajang wedding festival 2017 di Genteng.

Ditambahkan Wiwik, anggota Harpi Melati Rogojampi jumlahnya terus bertambah. Awal dikukuhkan, hanya 30 perias. Hingga tahun 2017, tercatat 42 orang. Mereka ada yang baru terjun ke dunia tata rias, ada juga yang sudah 10 tahun. Agar kompak, mereka selalu membuat seragam, digunakan dalam setiap pertemuan.

Dalam organisasi ini tidak ada istilah paling bisa. Artinya, semua pengetahuan dibagi bersama. Termasuk, urusan proyek. Ketika ada anggota mendapatkan proyek rias yang besar, bisa menggajak anggota lainnya. “ Ini salah satu keuntungan bergabung dengan Harpi Melati. Selain up date pengetahuan tata rias, kita bisa saling berbagi pekerjaan,” jelas Wiwik.

Keuntungan lainnya, lanjut Wiwik, para perias bisa mendapatkan pengetahuan yang standar terkait tata rias. Sebab, kata dia, tak semua perias pernah menempuh pendidikan tata rias secara formal. “ Dalam pertemuan itulah, saling bertukar pengetahuan. Jadi, ada sesuatu yang kita bawa pulang setelah arisan bulanan,” jelasnya lagi.

Karena, menurut Wiwik, Harpi selalu menekankan kepada setiap anggota bisa mengikuti pakem tata rias. Khususnya, riasan tradisional. Kini, pihaknya bersama Harpi sedang mempopulerkan riasan pengantin adat Using. Selama ini, tata rias yang sudah dikembangkan adalah Jawa dan Muslim modern. “ Khusus riasan pengantin Using ini sedang kita populerkan. Karena, ini ciri khas pengantin Banyuwangi,” tuturnya.

Selain pengantin Using, Harpi juga mempopulerkan riasan dan jasa untuk ritual tingkepan atau tujuh bulanan ibu hamil. Seperti digelar, di salah satu rumah anggota Harpi di Tegalwero, Desa Kaotan, Blimbingsari, pekan lalu. Tradisi tingkepan dikemas rapi.

Mulai riasan hingga tata caranya. Kegiatan ini sekaligus pembelajaran bagi anggota Harpi. “ Jadi, setiap ada perkembangan riasan atau lainnya, kita sosialisasikan ke anggota. Sehingga, ada pengetahuan baru. Kami tak sekadar kumpul-kumpul,” ujarnya.

Selain tingkepan, lanjut Wiwik, Harpi Rogojampi juga mempopulerkan ritual tedak siti (bayi turun ke tanah). Seluruh ritual menggunakan dalang yang juga anggota Harpi. Pihaknya juga menggelar pelatihan kepada remaja agar menyukai dunia tata rias, khususnya pengantin tradisional. Harapannya, akan muncul perias-perias muda yang bisa melestarikan budaya lokal. “ Bagi kami, hadirnya perias baru dalam Harpi menjadi potensi untuk mengembangkan tata rias,” pungkas wanita yang bergabung dalam Harpi sejak 1995 tersebut. (udi)