Durian Boneng, Tanpa Biji, Rasanya Bikin Ketagihan

Pak Boneng bersama istri dengan durian boneng tanpa biji. (foto/bb/tin)

Songgon (BisnisBanyuwangi.com) – BICARA durian, tak lepas dari sosok pria satu ini. Bernama asli Slamet  Hariyadi, pria yang dikenal dengan sebutan Pak Boneng ini sudah berkecimpung dengan usaha durian sejak muda. “Orangtua saya dulu pedagang durian. Saya kecil pun sudah bekerja menjaga durian jatuh dari pohon,” ungkap pria asli Desa Songgon ini kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Pak Boneng merintis usaha jual beli durian sejak usia 25 tahun, saat masih bujang. Dia memilih mengikuti jejak orangtua sebagai pengusaha durian, lantaran sejak kecil sudah terbiasa dengan usaha ini. “Usia 25 tahun, saya mulai belajar mandiri,” kenangnya.

Pak Boneng merintis usaha ini berangkat dari modal tekad. Dari modal awal Rp 10 juta. Saat musim durian Pak Boneng menjadi salah satu pengepul durian Songgon terbesar di wilayah ini. Pedagang memilih membeli ke tempatnya dengan harga lebih murah. Saat ini, Pak Boneng memiliki banyak langganan pedagang durian. Di samping berjualan durian di lapak sendiri.

Untuk stok durian, dirinya  bekerjasama dengan pemilik pohon durian dengan sistem sewa pohon. “Tahun ini saya investasi senilai Rp 350 juta untuk sewa pohon,” ungkapnya.

Menurutnya, harga sewa tiap kebun berbeda, kisaran Rp 30 juta hingga Rp 50 juta selama 5 kali musim. Saat ini dirinya memiliki 500 pohon durian. “Khusus durian motong  ada sekitar 700 pohon di atas lahan seluas 7 hektar,” tambahnya.

Di rumahnya, di Jalan Rowobayu, Songgon menjadi pusat durian. Berbagai jenis durian Songgon tersedia. Seperti durian merah, durian mentega, durian pink, durian orange, dan durian unggulan si boneng. Durian boneng ini kata Pak Boneng sangat istimewa, durian non biji. Stoknya tak banyak alias masih ada satu pohon.

Untuk mengumpulkan dan memetik durian, Pak Boneng dibantu 26 tenaga kerja. Yakni, 15 orang tukang petik durian, 5 orang tenaga petik manggis dan 6 tenaga wanita membersihkan durian sebelum ke tangan ke pedagang. Selain durian, Pak Boneng juga menjadi pengepul manggis.

Pak Boneng mengaku pihaknya hanya menjual durian berkualitas, benar-benar matang, jatuh dari pohon. Menurutnya dalam setahun terdapat 1 – 2 kali musim, tergantung cuaca. Jika sedang musim, dalam sehari pihaknya bisa menjual durian sebanyak 1.200 hingga 1500 biji durian. Omzetnya, Rp 15 juta hingga Rp 17 juta per hari.

“Musim durian kali ini diperkirakan akan habis April nanti,” ucapnya.  Kini dalam mengelola usaha durian ini dirinya dibantu istri dan saudara. Dia mengatakan prospek usaha durian ini sangat menjanjikan. Bahkan tak menutup kemungkinan ke depan dirinya tertarik mengembangkan tanaman durian.

Tanaman durian ini dari awal bunga sampai panen perlu waktu 7 bulan. Jika cuaca lebih banyak panas, panen durian juga lebih banyak. Di luar musim durian, Pak Boneng berjualan buah lainnya, mengirim jambu getas merah ke Bali. Tanaman getas merah ini juga banyak dikembangkan warga setempat. Luasnya sekitar 20 hektar.  (tin)