Bakso Untung, Lengendaris, Langganan Menteri

Muat dan istrinya menunjukkan bakso urat yang legendaris. (foto/bb/wid)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – BAKSO, menjadi makanan favorit hampir di setiap kalangan. Di Banyuwangi, terdapat bakso yang terbilang legendaris. Bahkan, menjadi langganan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Adalah bakso Untung, milik Muat di timur simpang lima kota Banyuwangi. Pria yang sudah lanjut usia ini masih bertahan berjualan bakso. Dia mulai menekuni usaha ini sejak tahun 1964. Di tengah persaingan yang ketat, Muat bersama sang istri, Zaemah, masih setia dengan kuliner yang mengisi hampir sepanjang hidupnya itu.

Muat bercerita, saat pertama kali berjualan, satu porsi bakso masih dihargai Rp 10. Kala itu, ia masih bujang. Berjualan keliling, menggunakan pikulan. Yang khas disini adalah bakso urat. Benar-benar full urat. Ukurannya jumbo normal. Dahulu, kata Muat, masih belum ada penggiliangan daging. Sehingga, untuk membuat bakso dilakukan secara manual. Daging sapi dipukul-pukul hingga halus.

Saat dipukul-pukul itu, urat daging terpisah, dikumpulkan.  Lalu, dibuat bakso urat yang benar benar urat. Bahkan, kala itu, belum populer bakso jumbo, ukuran bakso urat Untung  pernah sebesar kepalan tangan. “Saat itu harganya 10 rupiah. Saya keliling Banyuwangi pakai pikulan. Saat itu masih jarang yang jualan bakso. Terus pakai gerobak,” kenang Muat saat  berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Untuk menjaga kualitas,  Muat masih turun langsung memilih daging di pasar. Kemudian, memasaknya di dapur dibantu sang istri. Sedangkan untuk penjualan diserahkan kepada anak-anaknya.

Rasa dagingnya sangat kuat, terutama bakso urat yang terlihat cacahan daging dan uratnya. Bentuknya tidak bulat utuh seperti bakso pada umumnya. Kuahnya yang bening, sangat gurih. Terasa sekali jika didapatkan langsung dari kaldu sapi. Juga, tidak enek saat diseruput.

Keunikan lainnya, bakso di sini menggunakan petis hitam pedas di meja. Dipakai cocolan tahu, tahu bakso atau baksonya sekalian. Bagi yang suka pedas, jangan kaget kalo nggak ada tempat sambal di atas meja seperti pada warung bakso umumnya. Sebab, sambal disajikan terpisah dengan piring kecil saat bakso dihidangkan.

Pelanggan Bakso Untung bukan hanya masyarakat kota Banyuwangi, tapi warga Banyuwangi yang tinggal di luar kota. Ia mencontohkan Menteri Pariwisata Arief Yahya yang sering mampir ke warung baksonya jika pulang kampung ke Banyuwangi. Terkadang, kata Muat, keluarga Arief Yahya juga memesan bakso untuk dibawa pulang. Terutama,  saat ada pertemuan atau Lebaran.

Muat dan istrinya menghabiskan daging sapi kualitas terbaik, rata rata 23-25 kilogram setiap harinya. Khusus yang 10 kilogram digunakan untuk bakso urat. Satu porsi lengkap, pembeli akan mendapatkan bakso urat ukuran jumbo, bakso halus, bakso goreng serta bakso tahu. Harganya, hanya dibandrol Rp 18.000 per porsi. Pelanggan dapat memilih menggunakan mie kuning atau putih atau campur secara gratis. “Kalau omzet, Alhamdulillah, bisa untuk mengisi kebutuhan kami, biaya anak-anak dan berbagi dengan lainnya,” pungkasnya.  (wid)