Dibantu Norwegia, Sampah di Muncar Bisa Hasilkan Rp 2,3 Miliar

Sampah dan limbah di aliran sungai pesisir Muncar. (foto/bb/dok)

Muncar (BisnisBanyuwangi.com) – TINGGINYA produksi sampah di pesisir Muncar, menarik perhatian asing. Norwegia, salah satunya. Melalui sebuah lembaga non profit, negara di benua biru ini akan memberikan pendampingan pengelolaan sampah di Muncar. Dari pengelolaan ini, nilai yang dihasilkan ditaksir bisa mencapai Rp 2,3 miliar per tahun.

Selian aktivis dari Norwegia, program dengan tajuk “STOP” tersebut akan melibatkan Kementerian Lingkungan dan Kehutanan serta Pemkab Banyuwangi. Nantinya, pengelolaan sampah di kota ikan tersebut akan melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat. “  Program dukungan Norwegia ini membantu mengakselerasi kebersihan kawasan Muncar. Ini selaras dengan target Presiden Jokowi yang ingin menurunkan sampah laut hingga 70 persen hingga tahun 2025,” kata Bupati Abdullah Azwar Anas, pekan lalu.

Menurut Anas, program ini bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan nelayan dan warga, sekaligus meningkatkan derajat lingkungannya. Bahkan, kata dia, bisa menjadi destinasi wisata alternatif.

Program bergengsi ini ternyata menjadi percontohan Norwegia di Indonesia. Sebab, baru pertama kali. “ Kami akan melakukan pendampingan baik fisik maupun non fisik,” kata Joi Danielson, Program Director Systemiq, lembaga Norwegia yang akan menangani sampah di Muncar. Dijelaskan, pihaknya akan menginvestasikan peralatan untuk mengefisienkan pengelolaan sampah. “Kami tidak bangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Namun, kami investasi peralatan untuk mengakselerasi TPST yang sudah ada,” jelasnya.

Peralatan itu, seperti alat pengolahan sampah, moda pengangkutan sampah, dan conveyor. Sedangkan pendampingan nonfisik dilakukan dalam bentuk strategi perubahan perilaku masyarakat dan lembaga pengelola sampah lewat pelatihan-pelatihan. Sehingga lembaga masyarakat yang mengelola bisa menjadi entitas bisnis mandiri. Dari pengelolaan sampah ini, pemasukan ke BUMDes ditaksir bisa mencapai Rp 2,3 miliar per tahun.

Sementara itu, Nick Anthony, tenaga ahli dari Society Environment Economy and Knowledge (SEEK) yang tergabung dalam program STOP, menjelaskan, pihaknya telah melakukan studi komposisi sampah di Muncar.

Temuannya, sampah pantai didominasi tekstil, menyusul sampah plastik yang hancur, plastik film, plastik botol kemasan, dan plastik sachet. “Data ini sebenarnya kabar gembira. Karena sampah plastik yang paling dikhawatirkan justru tidak mendominasi. Penanganannya jauh lebih mudah,” ujarnya. Pihaknya juga tidak menemukan jala bekas dan styrofoam bekas yang menjadi sampah pantai. (udi)