Sevia Yunia, Hanya Sekadar Hobi

Sevia Yunia. (foto/bb/dok. pribadi)

Tegaldlimo (BisnisBanyuwangi.com) – TERJUN ke dunia musik, ternyata bukan sebuah pilihan hidup bagi sosok Sevia Yunia. Bernyanyi dari panggung ke panggung, hanyalah sekadar menyalurkan hobi. Baginya, pendidikan tetap yang nomor satu. Karena itu, penyanyi muda asal Tegaldlimo ini tak terlalu mengejar job manggung. Bukan tanpa alasan. Pendidikan untuk persiapan masa depan tetap menjadi prioritas. “ Saya hanya terima job kalau malam. Jika siang, setelah pulang sekolah atau akhir pekan. Jadi, tak menganggu jadwal sekolah,” kata siswa SMA PGRI Purwoharjo ini saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Menurut Sevia, berkarir di dunia musik tidak bisa diandalkan hingga tua. Artinya, kata dia, ketika usia mulai dewasa, akan muncul penyanyi-penyanyi baru yang lebih energik, menarik. Karena itu, dia memilih fokus ke pendidikan, ketimbang mencurahkan sepenuhnya ke dunia tarik suara. Meski tidak dipungkiri, dengan berkarir di panggung hiburan, bisa mendatangkan rezeki yang lumayan. “Memang saya akui, menyanyi itu hasilnya lumayan. Bahkan, bisa membantu biaya hidup. Tapi, profesi ini tidak bisa kita andalkan selamanya,” ujar pemilik nama lengkap Sevia Yunia Ningrum ini. Dengan tidak meninggalkan pendidikan, Sevia berharap, bisa lulus SMA dan melanjutkan kuliah. Sehingga, bisa menatap masa depan lebih baik.

Lalu sampai kapan akan menyanyi ? Putri pasangan Supinatun dan Sukijo (alm) ini mengaku belum tahu sampai kapan menekuni dunia panggung. “Mungkin kalau sudah waktunya kelak. Sekarang fokus dulu ke pendidikan dan hobi menyanyi,” ujar dara kelahiran 2 Juni 2000 tersebut. Karena fokus ke pendidikan, tak jarang Sevia menolak job yang menganggu jadwal sekolah. Terutama, tawaran manggung ke luar kota. Bahkan, di panggung lokal, dara berbintang Gemini ini hanya mengambil job saat malam week end.

Karir yang dilakoni Sevia terbilang dari nol. Dara berwajah cantik ini mengawali karir sejak masih TK. “Awalnya suka menyumbang lagu di tetangga yang hajatan. Itu berlangsung hingga SD. Hanya dibayar nasi kotak,” kisahnya. Meski begitu, dia tetap semangat. Apalagi, sang ortu juga mendukung. Dia juga sempat mengenyam les vokal. Akhirnya, jerih payahnya mulai dihargai. Pertama kali, Sevia hanya mendapat honor manggung Rp 25.000. “ Itu masih SD. Tapi, rasanya sudah senang,” kisahnya lagi. Sevia juga pernah mengenyam dapur rekaman. Lagunya, “Kangen”.

Di panggung, Sevia juga piawai menghidupkan suasana. Goyang menjadi menu wajib. Lagu Using salah satu yang menjadi ciri khas. “ Kalau lagu, saya ikut permintaan. Using atau koplo dan pop hingga religi, harus bisa,” ujar penghobi kuliner pedas ini. Soal kostum, Sevia juga fleksibel. Mengikuti suasana panggung. Saat harus tampil sedikit terbuka, baginya bukan halangan. Syaratnya, masih dalam batas kesopanan. (udi)