Ketua KADIN Banyuwangi, Mohammad Yasin, Garap UMKM, Perjuangkan Pasar Eskpor

Ketua KADIN Banyuwangi, Mohammad Yasin. (foto/bb/udi)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – POTENSI Banyuwangi melimpah. Sumberdaya alamnya layak menembus pasar ekspor. Termasuk, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Sayangnya, potensi ini belum tergarap maksimal. Masih banyak UMKM yang belum greget menembus pasar sendiri. Hanya sekadar memproduksi. Pasar ekspor sejatinya juga bisa ditembus langsung dari Banyuwangi, melalui Pelabuhan Tanjungwangi. Lagi-lagi, pelaku usaha belum menangkap peluang itu. Setidaknya, beragam fenomena ini yang menjadi pekerjaan rumah bagi sosok Mohammad Yasin, Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Banyuwangi.

Terjun ke dunia usaha sejak muda, membuat pria kelahiran Banyuwangi ini dipercaya menjadi Ketua KADIN Banyuwangi, sejak April 2017. Sebelumnya, pengusaha yang akrab dipanggil Yasin ini sudah 15 tahun menjadi pengurus KADIN di Bumi Blambangan. Terpilih menjadi Ketua KADIN secara aklamasi, kata Yasin, memiliki tanggungjawab besar. Sebab, tak hanya memayungi dunia usaha dan industri di Banyuwangi, namun harus mau memajukan sumber daya anggotanya. “ Banyak pekerjaan rumah di KADIN ini. Terutama, kami ingin mengajak UMKM bisa menembus pasar sendiri. Termasuk, kami berjuang membuka kran ekspor dari Pelabuhan Tanjungwangi,” kata Yasin saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Berbicara UMKM, kata Yasin, di Banyuwangi banyak yang memiliki produk berkualitas. Karena itu, pihaknya akan menjadi mediator dan fasilitator untuk mendekatkan UMKM dengan pemerintah. Hal ini, berkaitan dengan regulasi dan aturan lain. Misalnya, pengurusan izin usaha atau hak cipta. “ Jadi, kita fasilitasi mereka. Prosesnya kita sambungkan langsung ke pemerintah sebagai pemegang regulasi,” jelas pengusaha properti ini. Kebijakan ini, kata Yasin, untuk memudahkan kalangan UMKM memiliki izin sesuai regulasi yang ada.

Berbicara ekspor, menurut Yasin, produk UMKM Banyuwangi kebanyakan masuk ke pihak perantara. Artinya, tak langsung masuk ke buyer luar negeri. Akibatnya, pemilik UMKM hanya mendapatkan keuntungan sedikit. Padahal, kata dia, pasar eskpor sejatinya bisa ditembus dari Banyuwangi, melalui Pelabuhan Tanjungwangi.

Dia mengaku, sejak lima tahun terakhir sejatinya ada tawaran pengiriman ekspor dari Tanjuwangi. Pihaknya bekerjasama dengan perusahaan pelayaran jalur Singapura-Timtim melalui Surabaya. Namun, peluang itu masih belum dimanfaatkan para pelaku ekspor dari Banyuwangi. Kebanyakan memilih kargo dari Surabaya dan Bali. “ Produk ikan kita banyak yang eskpor, tapi lebih memilih lewat Surabaya. Sedangkan, produk UKM, kebanyakan ke kargo di Bali,” jelas Yasin. Padahal, kata dia, kapal dari Singapura itu menawarkan peluang kago dari Banyuwangi langsung. Mereka transit ke Banyuwangi sekaligus mengisi pasokan air bersih. Sehingga, biaya eskpor bisa lebih murah.

Yasin menambahkan, saat ini, jumlah anggota KADIN Banyuwangi mencapai 600 orang. Namun, dari jumlah itu, hanya 140 orang yang aktif berorganisasi. Mereka  dari beragam unit usaha. Mulai konstruksi, perikanan, pertanian dan industri olahan. Terbanyak, dari jasa konstruksi. Kondisi ini, menjadi pekerjaan rumah lainnya bagi pengurus KADIN yang baru. Salah satu programnya,  memberikan fasilitasi pembiayaan bagi pengusaha, baik mikro kecil hingga menengah. Lalu, pelatihan SDM, mencetak interprener muda.

Pihaknya juga menjalin kemitraan dengan perusahaan besar di berbagai daerah. Tujuannya, bersinergi dalam pemberdayaan ekonomi. “ Kami sudah ke pabrik gula, pengalengan ikan, pengolahan kayu, hingga pabrik kertas. Intinya, kita saling garap potensi. Mana yang bisa kita garap bersama untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat,” tegas pria yang memilih pensiun dini dari PNS dan menjadi pengusaha ini.

Apalagi, lanjutnya, KADIN memiliki jaringan yang luas. Bahkan, baru-baru ini, pasar Amerika meminta ekspor produk ikan senilai 30 miliar dollar AS, namun belum bisa dipenuhi.

Yasin menambahkan, tak hanya pasar ekspor, pasar domestik juga terbuka lebar bagi pelaku UMKM. Apalagi, Banyuwangi memiliki banyak kegiatan festival. Sehingga, berpeluang memicu naiknya permintaan produk UMKM. KADIN kata Yasin juga kerap mendapat undangan pameran di berbagai kota. Peluang ini yang bisa dimanfaatkan bagi pelaku UMKM.  “ Hanya, kadang mutu sering diabaikan. Ini juga akan menjadi perhatian KADIN,” jelasnya. Pihaknya mengajak kalangan pengusaha, baik kecil hingga menengah bergabung dengan KADIN. Sebab, bisa mendapatkan berbagai peluang pasar.

Menurut Yasin, kepengurusan KADIN yang tinggal tiga tahun lagi ini sudah membentuk spesialisasi masing-masing pengurus. Artinya, dikelompokkan sesuai bidang usaha. Bahkan, para pengurus KADIN diajari privat Bahasa Inggris untuk bisa menangkap pasar eskpor. “ Di era IT ini, kami juga ingin mengajak UMKM bisa go ke luar negeri. Ini jadi perhatian kami,” pungkasnya. (udi)