Bisnis Kerupuk tetap Bertahan

Kerupuk tetap menjadi usaha yang bisa bertahan di tengah ketatnya persaingan. (foto/bb/ida)

Genteng (BisnisBanyuwangi.com) – KERUPUK, menjadi menu yang banyak disukai. Selain murah, rasanya juga gurih. Tak heran jika bisnis kerupuk tetap mampu bertahan. Meski, serbuan aneka lauk modern terus menjamur. Kondisi ini yang membuat Iskandar, terus eksis mengelola usaha kerupuk.

Pria asal Cangaan, Desa Genteng Wetan ini memilih mengemas kerupuk goreng. Beragam kerupuk dia edarkan. Awalnya, dia membeli kerupuk mentah dari pengepul. Lalu, digoreng dan dikemas ke dalam plastik. “Saya dulu hanya bermodal satu karung kerupuk, isi 25 kilogram. Sekarang terus berkembang,” kata Iskandar kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Awal membuka usaha, kenang Iskandar, pihaknya mengemas sendiri kerupuk goreng. Lalu, dijajakan keliling. Dari pasar ke pasar, bahkan ke perumahan. Aktivitas itu dilakukan sekitar tiga tahun. Usahanya membuahkan hasil. Kerupuk goreng buatannya banyak dicari. Dia pun memutuskan berhenti berkeliling. Lalu, mengembangkan usahanya.

Kini, dia memilih mempekerjakan ibu-ibu, mengemas kerupuk ke dalam plastik. Sehingga, ikut mengurangi pengangguran di sekitar rumahnya. Usaha kerupuk goreng ini sudah berjalan enam tahun. Setiap harinya, belasan ibu-ibu berkumpul. Mereka mengemas kerupuk ke dalam plastik dengan beragam ukuran. “ Mulai subuh,  ibu-ibu sudah berkumpul. Mengemas kerupuk ke dalam plastik,” jelasnya.

Selain ibu-ibu, pihaknya juga memperkerjakan karyawan untuk berkeliling menjajakan kerupuk. Total sebanyak 80 orang. Satu orang biasanya membawa 10-50 bungkus kerupuk. Menurut Iskandar, kerupuk mentah dibeli dari agen. Setelah itu dijemur hingga kering. Sehingga, menghasilkan kerupuk yang renyah.

Untuk menghasilkan kerupuk yang renyah, kata dia, membutuhkan keahlian khusus. Terutama, agar kerupuk bisa mengembang. “Panas minyak yang dipakai menggoreng harus terukur. Jangan sampai terlalu panas, akan berdampak pada warna dan rasa,” jelasnya. Bahan bakar menggunakan kayu. Sehingga, panasnya awet dan penuh. Menggunakan kayu, kata dia, hasilnya lebih bagus dibandingkan dengan gas elpiji.

Kerupuk yang sudah digoreng didiamkan beberapa menit. Tujuannya, minyaknya habis. Setelah itu, dimasukkan ke dalam kantong plastik. Pihaknya memiliki 9 jenis kerupuk. Paling laris, kerupuk jari serta kerupuk puli. Harganya, Rp 1500 per bungkus. Setiap harinya, dia bisa menghabiskan hingga 1,5 kwintal bahan kerupuk. Ketika hujan, permintaan kerupuk meningkat hingga dua kali lipat. Omzetnya Rp 3 juta per hari.

Kendala usaha ini, kata dia, minimnya tenaga kerja. Menurutnya, tenaga kerja yang mau bergabung dalam usaha kerupuk sangat jarang. “ Terutama tenaga yang mau bertugas mengemas kerupuk. Jadi, kami hanya mengandalkan ibu-ibu tidak memiliki kesibukan,” pungkasnya. (ida)