Miris, Lansia Tinggal di Gubuk Reot

Bambang bersama istri di dalam rumahnya yang tak layak huni. (foto/bb/ida)

Sempu (BisnisBanyuwangi.com) – DI USIA senja, Bambang, warga Dusun Temuasri RT 1/RW 2  Desa Temuasri, Kecamatan Sempu, tak bisa tidur nyenyak. Maklum, di masa senja, kakek 67 tahun ini, belum menikmati rumah layak. Bersama istri, Halimah (47), dia harus tinggal di rumah yang memprihatinkan, sempit. Atapnya nyaris ambruk, bocor. Saat hujan, air menggenangi tempat tidurnya.  Kondisi ini dipicu kondisi ekonomi. Dia berharap, bisa mendapat bantuan bedah rumah. Sehingga, bisa memiliki rumah yang sehat.

Rumah Bambang berukuran mungil. Atapnya dari genteng yang rapuh, bahkan nyaris ambruk. Dindingnya bedek. Lantainya tanah. Tak ada ruang tamu, hanya tempat tidur. Rumah ini disekat dua ruangan. Tempat tidur dan dapur. Kondisi dapurnya juga memprihatinkan. Bukan kompor gas. Namun, tungku, berbahan kayu bakar.

Bertahun-tahun, Bambang menempati rumahnya ini. Meski tak layak huni, pria ini tak punya pilihan. Sejatinya, Bambang ingin tinggal di rumah yang nyaman, layaknya warga lain. Namun, apa daya. Usia dan kondisi ekonomi, membuatnya tak mampu berbuat banyak. Bahkan, untuk makan sehari-hari, dia pun kebingungan.  “ Pingin seperti warga lain, tinggal di rumah yang layak. Tidak bocor saat hujan,” kata Bambang, pekan lalu.

Rumah yang ditempati ini berada di atas lahan warisan orang tua. Sehingga, tak ada masalah jika dibangun permanen. Selama ini, Bambang mengandalkan hasil jasa pijat untuk menyambung hidup. Itupun, tak setiap hari ada pasien yang datang. Sehingga, penghasilannya tak menentu. “ Kalau pas ada yang datang, ya mijit. Kalau nggak, ya diam saja,” ujar Bambang. Pia ini juga tak mematok tarif jasa pijitnya.

Sejatinya, Bambang memiliki keahlian membuat karya seni pahat. Namun, lantaran faktor usia, kini, kegiatan itu dihentikan. Bambang berharap, rumahnya bisa mendapatkan bantuan bedah rumah. Apalagi, kondisinya sangat tak layak. Terakhir, rumahnya dihajar angin. Kondisinya rusak, belum ada bantuan perbaikan. Selama ini, kata dia, hanya mendapatkan bantuan beras miskin (raksin). “Waktu rumah rusak diterjang angin, saya bangun sendiri bersama suami,” ujarnya.

Kondisi rumahnya yang miris diperparah dengan minimnya penerangan. Bambang tak punya dana menyalur listrik. Dia hanya mengandalkan aki motor yang kecil, dengan lampu 5 watt. Dia mengaku, pernah mengajukan bantuan bedah rumah. Namun, belum ada realisasi. “ Setiap mengajukan bantuan bedah rumah, hanya difoto. Tapi, belum ada realisasi,” keluhnya. Dia berharap, ada pihak yang peduli dengan kondisinya. Sehingga, bisa memiliki rumah yang layak. (ida)