Kerja Keras Tim Juri Jeding Rijig, Berangkat Pagi, Pulang Malam

Tim juri jedhing rijig. (foto/bb/wid)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – FESTIVAL Jeding Rijig yang digeber, 5 Februari 2018, menyisakan pengalaman menarik. Salah satunya, dari tim juri. Tim dari lintas lembaga ini harus bekerja esktra keras untuk bertugas. Mereka berkeliling ke seluruh kecamatan di Banyuwangi.  Sehari, minimal dua kecamatan. Tak heran, jika tim penilai ini harus rela berangkat pagi, pulang hingga malam hari.

Tim juri dari unsur kabupaten ini, bergerak mulai Senin hingga Kamis (16-19 April). Ada beberapa sasaran penilaian yang dilakukan. Diantaranya, 5 rumah tangga yang mewakili desa/kelurahan di setiap dusun atau lingkungan.  Lalu, sarana pendidikan, mulai TK hingga SMA/sederajat. Sementara, untuk sarana ibadah, sarana perkantoran, dan perbankan atau kantor BUMN diganti dengan objek lain, yaitu RTH dan objek wisata. Tim penilai dibagi menjadi tiga kelompok. Setiap harinya, melakukan penjurian di dua kecamatan.

Menurut koordinator tim juri Jedhing Rijig, Rahmania Permatasari, tim I melakukan penilaian di Kecamatan Kalibaru, Glenmore, Gambiran, Cluring, Rogoampi, Blimbingsari, Srono, Glagah dan Licin. Sedangkan im II, kata Nia, melakukan penjurian di Kecamatan Pesanggaran, Siliragung, Genteng, Tegalsari, Singonjuruh, Sempu, Giri dan Banyuwangi.

Dan, tim III menyasar wilayah Kecamatan Bangorejo, Purwoharjo, Muncar, Tegaldlimo, Songgon, Kabat, Kalipuro dan Wongsorejo.   “Kami sengaja mengambil 2 kecamatan setiap harinya, supaya lebih efektif. Karena kalau lebih dari 2 Kecamatan hasilnya kurang bagus,”kata Nia kepada Bisnis Banyuwangi.

Belajar pada penilaian tahun-tahun sebelumnya, kata Nia, tim penilai harus menyelesaikan hingga malam hari. Mengingat, setiap Kecamatan memiliki 5-6 lokasi yang akan dinilai. Mulai sekolah, RTH dan 5 rumah tangga yang jaraknya bisa berjauhan, tergantung petunjuk dari pihak kecamatan yang telah mempersiapkan.

Ditambahkan, tim penilai tidak hanya dari Dinas Lingkungan Hidup, tapi juga dari lembaga Kesehatan dan LSM Lingkungan. Karena toilet berkaitan dengan kondisi lingkungan, sanitasi dan kebersihan serta kesehatan.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Husnul Chotimah mengatakan, kriteria penilaian toilet bersih ini salah satunya ada kloset atau WC untuk pria dan wanita, wastafel atau tempat cuci tangan, sabun, cermin, tisu, pengharum ruangan, tempat air dan gayung. Lalu, tempat sampah, gantungan barang, penerangan, air mengalir sempurna, ventilasi baik secara keseluruhan, saluran pembuangan, dan ada petugas kebersihan. “Ini adalah salah satu poin penilaian dari tim juri kabupaten yang terjun langsung melihat dari dekat toilet yang ikut dilombakan,” ujar Husnul.

Husnul mengatakan, Festival Jeding Rijig sekaligus untuk meningkatkan kualitas infrastruktur penunjang atau amenitas pariwisata di Bumi Blambangan. Sejak diluncurkan, festival ini mampu meningkatkan pengelolaan toilet, khususnya toilet publik. Alhasil, daerah berjuluk The Sunrise of Java ini terlihat lebih bersih dan terawat.

Karena 70 persen toilet di Banyuwangi kini lebih terkelola dan terjaga, baik soal kebersihan maupun pembuangannya. Harapannya, 30 persen sisanya akan tercover lewat pelaksanaan Festival Toilet Bersih tahun ini.

Gerakan yang digagas Bupati Anas sejak tahun 2013 dan masuk dalam agenda Banyuwangi Festival sejak tahun 2018 merupakan gerakan meningkatkan kualitas lingkungan hidup, menanam kembali pohon sebanyak-banyaknya. Tujuannya, mewujudkan destinasi wisata yang nyaman, bersih dan hijau.

Pembukaan Festival Toilet Bersih atau Jedhing Rijig 2018  digelar di Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh , 5 Februari 2018. Pembukaan Banyuwangi Festival 2018 sengaja dipilih di Desa Alasmalang, karena pertumbuhannya sebagai desa wisata berbasis tradisi lokal mulai berkembang. (wid)