Muhammad Maahir Abdulloh, Kampanye Membaca dengan Bersepeda Keliling Indonesia

Bersama anak-anak di Kampung Batara, Kalipuro. (foto/bb/wid)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – BANYAK hal unik dilakukan untuk berkegiatan sosial. Namun, yang satu ini terbilang beda. Menghabiskan waktu 700 hari, bersepeda berkeliling Indonesia. Tujuannya, berkampanye gemar membaca. Dialah, Muhammad Maahir Abdulloh. Pemuda asal Jakarta ini melakukan ekspedisi ke seluruh penjuru Indonesia. Membutuhkan waktu sekitar 2 tahun.

Di setiap daerah yang disinggahi, pegiat literasi, pecinta alam, relawan PMI sekaligus anggota Pramuka ini selalu mempopulerkan membaca. Selain bersepada, da pernah mendaki tujuh gunung tertinggi di Indonesia. Lalu, membangun sekolah nonformal di 10 desa tertinggal. Menggunakan sepada gayung, pemuda ini, pantang menyerah. Di sepedanya, tujuh buah tas terpasang di bagian depan dan belakang. Totalnya seberat 65 kilogram. Tidak ada keraguan, meski harus membawa beban berat dengan tubuh  yang kurus.

Saat singgah di Banyuwangi, pekan lalu, pemuda yang akrab dipanggil Maahir ini mengaku pernah menaklukan sejumlah gunung tertinggi di Nusantara. Mulai Semeru, Rinjani, puncak Cartens Papua hingga Gunung Kerinci di Sumatera.

Sementara, sejumlah sekolah nonformal yang dirintisnya tersebar di beberapa daerah. Mulai NTT, Papua, Maluku, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Utara hingga Aceh.

“Misi utama saya membangun sekolah nonformal di 10 desa tertinggal. Mendaki 7 gunung tertinggi sebagai cover agar kegiatan semakin menarik,” kata Maahir kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Di 10 provinsi yang dibuka taman baca, pihaknya berkomunikasi dengan lembaga non pemerintah. Seperti LSM, Pramuka, PMI dan aktivis literasi. Awalnya, pihaknya menggali informasi, desa mana yang paling membutuhkan lembaga pendidikan non formal. Kemudian dia akan mengajak masyarakat yang memiliki semangat pendidikan dan memiliki pengalaman organisasi untuk membangun taman baca. Sengaja dipilih orang yang berpengalaman organisasi agar rumah baca bisa terbangun dalam 30 hari, sesuai target yang dia tentukan.

Maahir mengaku mempersiapkan ekspedisi ini selama 5 tahun, termasuk beberapa kali ekspedisi percobaan. Bahkan, dia sengaja memilih jurusan Bimbingan Konseling di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial, Universitas Indraprasta PGRI Jakarta Selatan. Harapannya, agar mudah berkomunikasi dengan masyarakat daerah terpencil.

Dia telah melakukan ekspedisi Jakarta-Yogyakarta, bersepeda di tahun 2016. Dan, Jakarta-Bali tahun 2017, sebagai percobaan dan bahan evaluasi. Seminggu sekali, dia berlatih lari sejauh 20 kilometer dan bersepeda 50 kilometer. Sejak tahun 2015, Maahir juga membiasakan diri bersepeda dalam aktivitas sehari-hari.

“Di kegiatan rutin kayak rumah ke kantor, kantor ke kampus, kampus ke rumah, total 20 kilometer,” kata dia. Berbekal berbagai persiapan dan pengalaman di Pramuka, sertifikat edukasi mendaki gunung, dan pengetahuan kesehatan dari kesertaan di PMI, Maahir mendapatkan surat jalan Mabes Polri untuk ekspedisinya.  Surat rekomendasi juga turun dari Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka dan PMI DKI Jakarta.

Maahir menceritakan, setiap hari memiliki target perjalanan sejauh 100 kilometer, dan harus beristirahat setiap 1 jam perjalanan. Meski hanya 10 menit. Sebagai peningkat energi, kurma menjadi stok wajib dalam tasnya. Targetnya, bisa melintasi 34 provinsi. “Kalau tidak ada kebutuhan darurat saya tidak melakukan perjalanan bersepeda malam hari, Resiko bahayanya 3 kali lipat. Ada truk, bus, atau gangguan penjahat,” kata pemuda Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur ini.

Di Banyuwangi, dia mengunjungi Kamling Baca di Perumahan Brawijaya,  Kampung Baca Taman Rimba (Batara) di tepi hutan pinus Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Banyuwangi Utara, dan Bangsring Underwater.

Selama perjalanan ekspedisi, Maahir mendonasikan dana yang terkumpul untuk membeli perlengkapan papan tulis, kapur, peta Indonesia, lambang negara Indonesia, dan Bendera Merah Putih untuk dipasang di 10 taman baca.

“Saya lebih suka pakai kapur daripada pakai spidol. Kalau kita tinggal, pakai spidol lama-lama mereka bakal termehek-mehek,” selorohnya.

Pada akhirnya, berbagai hal yang ditemukannya selama ekspedisi akan dituangkan dalam sebuah buku perjalanan. Selain dokumentasi pembuatan 10 rumah baca di desa tertinggal, akan dikemukakan juga bagaimana upaya dia bertahan hidup dalam perjalanan.

“Sepeda bukan alat untuk menarik sensasi, saya memilih sepeda karena bisa dipakai masuk desa yang tanpa aspal, masuk hutan, tanpa lampu,” kata Maahir. Berangkat dari Balai Kota Jakarta, Minggu 11 Maret 2018, dia memiliki target sampai kembali di Jakarta dari arah Pulau Sumatera, Rabu 11 Maret 2020. (wid)