Haidi Bing Slamet, Kendang Membawanya ke Luar Negeri

Haidi Bing Slamet. (foto/bb/wid)

Glagah (BisnisBanyuwangi.com) – BISA berkeliling ke luar negeri, menjadi anugerah terindah bagi sosok Haidi Bing Slamet. Tak pernah menyangka, keahliannya bermain kendang, bisa membawanya tur ke sejumlah negara. Tentunya, tak semua orang bisa. Selain kendang, pria yang akrab dipanggil Edi ini juga piawai bermain biola, musik khas pengiring tarian Gandrung. Di usianya yang terbilang produktif, dia ingin menyumbangkan kemampuannya bagi pengembangan seni Using Banyuwangi.

Rumahnya klasik, terasa tenang. Di teras, terpasang sebuah papan kayu tebal tegak, bertulisan ‘Uni Using’. Di bawahnya, tulisan berbahasa Using “Tandang elek-elekan kabeh wong biso. Tandang apik-apikan sing kabeh wong biso” artinya  “kerja jelek-jelekan semua orang bisa, tetapi kerja bagus-bagusan tidak semua orang bisa”. Di bawah tulisan itu tertanda Buhari 1947-2002.  Itulah gambaran rumah milik Edi di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Pembuat kata-kata bijak itu ternyata ayah Edi yang juga budayawan terkenal di zamannya.

Menurut Edi, warga Using, khususnya Desa Kemiren merupakan masyarakat yang perfeksionis. Mulai pembuatan peralatan sehari-hari, seperti gagang golok dan cingkek atau alat pikul, hingga pagelaran hajatan. Seluruhnya, kata dia, dibuat sebaik mungkin secara mandiri atau gotong royong. Meski hajatan kelas desa,kata dia, biaya belanja daging sapi bisa menghabiskan Rp 15 juta. Biasanya, lanjutnya, total biaya hajatan pernikahan orang Desa Kemiren berkisar Rp 60 juta hingga Rp 70 juta. Dari kondisi masyarakat yang seperti ini, jiwa seni Edi ditempa. Berawal dari keluarga.

Edi dikenal dengan bakatnya memainkan  kendang. Tidak hanya itu, ia juga piawai membunyikan biola sebagai pengiring Gandrung. Bakat seni ini didapat  dari sang ayah, termasuk lingkungan Desa Kemiren. Bahkan, warga membawa alat musik ke sawah. Buhari (almarhum) merupakan seniman musik, sahabat dari budayawan Banyuwangi Hasnan Singodimayan.

Edi menceritakan ayahnya pernah menjadi tempat belajar seorang dosen Sastra Indonesia di Leiden University Belanda, Prof. Dr. Bernard Arp, selama beberapa tahun mulai tahun 1996. Sedangkan petani Kemiren, kata Edi, sering bermain musik di sela-sela kegiatan di sawah. Alat musik pukul bernama Kentulitan dibuat sendiri dari batang bambu, sebagian bermain angklung paglak di gubuk tinggi sambil mengawasi burung yang mengganggu sawah.

“Saya ini bibitnya seniman, alamnya juga alam seniman,” kata Edi saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Meski sang ayah seniman, ternyata tak banyak melatih Edi bermain musik. Hanya, memberikan beberapa keterangan pakem pemukulan kendang pengiring tari Gandrung. Selebihnya Edi berlatih sendiri, memperhatikan ayahnya ketika manggung, dan mempraktikkannya sepulang sekolah.

Hingga tahun 1993, ketika duduk di kelas 6 SD, Edi mendapatkan kesempatan pertama manggung mengiringi pertunjukan Gandrung terop. Gandrung terop merupakan pagelaran seni tari Gandrung semalam suntuk.

Mendapatkan tugas sebagai pemukul gong, dari hajatan di Dusun Jambean, Desa Glagah, Edi mendapatkan upah pertama sebagai seniman musik sebesar Rp 20.000. Selanjutnya Edi terus berkembang ke berbagai jenis kesenian Banyuwangi, Kuntulan, campur  sari, janger dan Gandrung.

Karena keahliannya tersebut, ia sering disebut-sebut oleh Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas dalam setiap kegiatan kesenian. Pernah dalam kesempatan tertentu, Bupati Anas juga mengenalkan Edi, sebagai tukang kendang Banyuwangi yang pernah tampil di Jerman. Lalu Bupati Anas memintanya memperdengarkan sedikit permainan kendang dengan pukulan-pukulan cepat. “Dalam berkesenian, membawakan musik tradisional, entah itu rebana, angklung atau gamelan, seniman Kemiren tidak mau asal-asalan,” ungkapnya.

Kesempatan manggung di luar negeri juga kerap menghampirinya. Pertama di Prancis, tahun 2010, atas kerjasama Pemkab Banyuwangi bersama Kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) di Prancis. Sebanyak 9 seniman Banyuwangi kala itu tinggal seminggu di Negeri Menara Eiffel dan tampil 4 kali di beberapa kota seperti Paris, Lyon, Marcy, dan di satu sekolah musik di kota pelabuhan Le Havre. Salah satu yang ditampilkan, tari Jaran Goyang.

Selanjutnya, Edi dan seniman Banyuwangi lain tampil di Frankfurt Book Fair 2015, di Jerman, dimana Indonesia menjadi tamu kehormatan. Gandrung dan Barong Using Banyuwangi menjadi salah satu wakil kesenian tradisional Indonesia yang ditampilkan.

Edi bersama Gandrung Temuk, Gandrung Mia, Rayes (pemain kluncing), Budi Santoso (pemain saron), Alex, Ali Kentus, Buang, Roki dan Rian berangkat membawa perlengkapan masing-masing. Kepala Bidang Adat dan Tradisi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Aekanu Hariyono, turut tampil dalam tarian Barong Using sebagai pitik-pitikan.

Edi menuturkan penampilan di Frankfurt merupakan salah satu momen pengenalan kebudayaan Banyuwangi. Tarian yang ditampilkan Gandrung, Jaranan Buto, Barong Ider, bahkan Temuk dan Mia mengajak pengunjung Frankfurt Book Fair menari Gandrung bersama. Sesi penari mengajak penonton menari bersama, dengan mengalungkan sampur atau selendang tari, disebut Paju Gandrung.

“Karena kami bawa tradisi, luar biasa apresiasi orang. Kebanyakan yang saya tanya, menganggap yang modern itu biasa, sedangkan yang tradisional ini unik,” katanya. Di depan ratusan pengunjung di atas panggung sepanjang 12 meter di tepi Sungai Mein, identitas budaya Banyuwangi menjadi pusat perhatian.

Tahun 2017, Edi dan kelompok seniman Banyuwangi manggung di luar negeri. Kali ini di Kuala Lumpur, Malaysia dalam acara peluncuran kartu anjungan tunai mandiri (ATM) sebuah bank milik negara Indonesia untuk pekerja migran asal Indonesia.

Menuut Edi, kendang dalam permainan musik tradisional adalah pemimpin harmoni. Selain menyimpan kenangan akan ayah yang dibanggakannya, Edi bermain kendang karena merasa mampu. “Kendang itu alat musik pertama yang saya pelajari. Kendang itu leader, kalau mobil itu sopirnya,” tuturnya.

Menurutnya, tidak semua seniman bisa memainkan kendang. Pemain kendang, kata dia, dituntut hafal gending atau lagu, kepadatan tempo, kemampuan pemukulan, kecepatan, dan harus bisa dinamis. Edi menilai permainan kendang Jawa, Bali, dan dangdut lebih halus dan lebih mudah dibandingkan permainan kendang Banyuwangi.

Selain itu permainan kendang di Banyuwangi hanya menggunakan 2 kendang dengan variasi bunyi yang tetap dituntut kaya. Bahkan di sekitar tahun 1980, pemain kendang Banyuwangi hanya mengandalkan sebuah kendang untuk hasilkan berbagai bunyi.

“Tempat lain masing-masing kendang punya suara, jadi ada yang sampai tukang kendang menangani 6 kendang sekaligus,” kata pengendang yang kini turut dalam proyek pembuatan album Banyuwangi Etno Musik ini.

Dengan kelompok musik Uni Using yang didirikannya, Edi mendapatkan 10 hingga belasan job per bulan sebagai seniman. Meskipun disukai, dulu musik dianggap bukan kemampuan yang bisa diandalkan untuk mencari nafkah, sehingga tidak banyak yang serius mendalaminya. Namun kini banyak pelajar SMP dan SMA di Banyuwangi yang terampil memainkan berbagai peralatan musik tradisional.

Aksi mereka bisa dilihat di berbagai pagelaran festival yang memperlihatkan kemampuan bermusik dan menari. Hal ini, kata dia, menunjukkan banyaknya bakat-bakat seni muda yang berkembang di Banyuwangi. “Kalau sekarang banyak yang bagus. Anak-anak SMP dari Banyuwangi selatan, utara, banyak yang pintar,” pungkasnya. (wid)