Telur Asin, Sehari Terjual 400 Butir

Produk telur asin yang diminati pasar. (foto/bb/ida)

Genteng (BisnisBanyuwangi.com) – MEMBUKA usaha sendiri, menjadi cita-cita yang terwujud dari Lestari. Berawal dari karyawan toko roti, warga Dusun Kaliputih, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng ini memutuskan membuka usaha telur asin. Tak disangka, usahanya membuahkan hasil. Kini, sehari mampu menjual hingga 400 butir telur.

Usaha ini sudah dijalani  delapan tahun.  Ide usaha telur asin muncul ketika anak pertamanya sering mengirim telur bebek ke Bali. Lalu, dia mencoba membuat telur asin. “ Awalnya, hanya 20 butir.  Ternyata, banyak yang suka,” kenang Lestari kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu. Karena telur asin buatannya memikat, banyak yang memesan kembali. Pesanan pun meningkat. Dari 20 butir, kini terus bertambah hingga 400 butir.

Untuk menjaga kualitas, Lastri cukup ketat memilih bahan telur. Dia berburu langsung ke peternak. Sehingga, mendapatkan pasokan telur yang benar-benar baru. Menurutnya, peluang usaha telur asin ini cukup bagus. Sebab, banyak yang menyukai telur asin untuk  lauk. Bahkan, saat ramai,  pihaknya bisa menjual hingga 600 butir telur sehari. “ Kalau pas ramai, bisa lebih,” kata pemilik telur asin “Mama Lestari” ini.

Menurutnya, proses pembuatan telur asin cukup rumit. Membutuhkan resep khusus, agar rasanya khas. Prosesnya, menggunakan batu bata yang telah dihancurkan.  Kemudian, dicampur bumbu rempah. Setelah itu, direndam selama 8 hari. Keterampilan dalam membuat telur asin ini diperoleh secara otodidak. Membuat telur asin merupakan usaha keluarga. Sehingga, dalam mengolah pihaknya hanya dibantu sang suami dan ketiga anaknya. Telur asin buatannya sangat dikenal. Memiliki dua varian rasa, asin dan netral. Rasanya sama-sama gurih. Produk buatannya banyak ditawarkan di rumah makan dan pusat oleh-oleh. Termasuk, dikirim ke Bali, hingga Taiwan. Permintaan akan melejit ketika hari besar keagamaan. Terutama, saat Lebaran. Harga telur ditawarkan cukup murah, hanya Rp 2500 per butir. Omzetnya, Rp 300.000 per hari. Mengutamakan rasa dan kualitas menjadi cara jitu mempertahankan pasar. “ Kalau kendala yang berarti belum ada,” pungkasnya. (ida)