Mie Ayam Hijau, Bahannya Alami

Mie hijau dengan pewarna alami. (foto/bb/wid)

Singojuruh (BisnisBanyuwangi.com) – KULINER mie berasal dari Tiongkok, namun makanan ini sudah menjadi bagian dari khazanah kuliner Indonesia. Selain jenisnya beragam, mie juga bisa menjadi alternative, selain nasi. Banyaknya penggemar kuliner mie, menjadi peluang usaha baru. Beragam varian mie dibuat, agar menarik. Mie ayam hijau, salah satunya. Seperti dikembangkan Muzaki, pemilik warung bakso dan mie ayam di Dusun Tegalmojo, Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh.

Muzaki mengatakan mie hijau yang disajikannya merupakan buatan sendiri. Pembuatannya menggunakan tepung terigu alami. Proses pengolahan tanpa pengawet. Untuk memunculkan warna, dia membuat adonan mie menggunakan air perasan sayur atau buah jenis tertentu. Misalnya, sayur sawi hijau atau bayam untuk warna hijau, wortel untuk warna kuning dan buah naga untuk warna ungu. Setiap hari, dia membuat mie dengan 10 kilogram tepung terigu dicampur air perasaan 10 kilogram sayur sawi hijau.

“Yang menghasilkan warna paling bagus sayur. Kalau buah naga sulit ngepaskan komposisi adonan, kadang jadinya terlalu lembek,” kata Muzaki kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Muzaki  lebih dari 20 tahun berjualan mie ayam dan 5 tahun terakhir selalu menjual mie warna. Ide membuat mie berwarna karena beberapa pelanggan mengeluh was-was pada bahan pengawet di mie ayam yang berwarna putih. Selain menghilangkan kekhawatiran konsumen dengan warna, Muzaki menjamin mie buatannya benar-benar tanpa pengawet.

“Supaya tetap rasanya, setelah buat langsung dimasukkan kulkas, kan nggak ada pengawetnya. Mie kami kalau dibungkus sampai rumah sudah mengembang, kalau yang dengan pengawet kena air 3 hari bentuknya masih tetap,” jelasnya.

Dengan pewarna alami, membuat konsumen tidak khawatir mengkonsumsi mie ayam di warungnya. “Sebenarnya lebih capek kalau kita buat sendiri, tidak beli yang di pasar. Tetapi hasilnya pelanggan lebih nyaman, tidak was-was kalau lihat mie-nya memakai pewarna alami,” ujarnya.

Satu mangkuk mie hijau berisikan potongan daging ayam, jamur, sawi hijau dan kerupuk pangsit hanya dibandrol Rp 7.000. Jika ditambah dengan bakso, cukup membayar Rp 9.000. Dengan harga itu, “Warung Inayah” milik Muzaki menjadi langganan anak-anak muda dan pelajar  SMA sepulang sekolah. Belum lagi setiap bulan pasti ada pesanan untuk acara pengajian, arisan atau hajatan. “Kalau omzet, ya lumayan, bisa di atas Rp 4 juta setiap bulannya,”pungkasnya. (wid)