Muntaha, Dongkrak Ekonomi dengan Bertani Kopi

Muntaha di tengah kebun kopi miliknya. (foto/bb/wid)

Kalipuro (BisnisBanyuwangi.com) – KOPI, kini menjadi primadona baru di Banyuwangi. Seiring perkembangan pariwisata, pasar kopi ikut terdongkrak. Peluang ini membuat sosok Muntaha, petani sekaligus praktisi pengembangan kopi asal Lingkungan Kacanganasri, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro. Pria ini mempelopori pemberdayaan masyarakat dalam budidaya kopi. Imbasnya, mampu mendongkrak ekonomi masyarakat.

Tinggal di dataran tinggi, berkecimpung dengan kopi menjadi keseharian dari Muntaha. Keinginannya mempelopori pengembangan kopi di daerahnya, bukan tanpa alasan. Sebab, selama ini, masyarakat setempat hanya menjual kopi dalam bentuk biji. Sehingga, harganya murah. Padahal, kualitas kopi robusta dan eselsa hasil petani setempat sangat layak diperhitungkan. Tak hanya budidaya kopi, Muntaha juga mempelopori pengembangan wisata agro kopi di wilayahnya.

Usaha keras pria 52 tahun ini, ternyata tak sia-sia. Dengan pemberdayaan kopi, dia mulai merasakan dampak positif kemajuan pariwisata. Tak hanya dirinya, warga juga ikut menikmati hasilnya. Selama ini, warga puluhan tahun berjuang untuk bisa lepas dari cengkraman tengkulak kopi yang membelenggu petani kopi dengan sistem ijon. Pria  yang berkebun kopi sejak usia remaja itu kini mulai menggeliat setelah selama puluhan tahun menjual kopi hasil panen kebunnya dalam bentuk biji.

Muntaha bercerita,  sebelum banyak wisatawan berkunjung,  petani kopi menjual hasil panen dalam bentuk biji mentah. Bahkan diborongkan, sehingga harga kopi sangat rendah. Tetapi, sekarang petani mulai melirik pasar yang menjanjikan. Mereka mengolah biji kopi menjadi bubuk kopi, nilai ekonominya jauh lebih tinggi.

“Kalau dulu masih terikat dengan tengkulak, tapi sekarang sudah berangsur-angsur dikelola sendiri. Karena, kalau di tangan pengepul, kondisi kopi banyak yang rusak, sebab cara panennya langsung ditarik semuanya,”kata pemilik kafe Kasela (Kacangan Asri Selalu Langgeng) ini kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Membuka kafe kopi, lanjut Muntaha, pihaknya ingin memberikan edukasi ke masyarakat untuk mengelola kopi yang baik dan benar. Kafe mini miliknya dibuat dengan nuansa pedesaan. Di tempat ini, Muntaha melakukan praktik sangrai kopi, petik dan cara perawatan kopi. Termasuk memberikan edukasi tentang jenis-jenis kopi yang ada di Gombengsari.

“Kafe ini dibuat untuk sarana komunikasi dan edukasi, juga menumbuh kembangkan semangat pengunjung agar bisa melihat bagaimana perputaran ekonomi pada kopi,” jelasnya.

Sehingga, lanjut Muntaha, hadirnya kafe ini bisa menjadi pemutus mata rantai yang memberatkan para petani. Karena, dirinya akan menerima bahan mentah dari warga dengan harga standard, di atas harga tengkulak.

“Di sini sebenarnya menampung hasil dari usaha warga, ada  kopi luwak arabika dan robusta dan lainnya. Semuanya hasil petani setempat,” jelasnya. Sejak mengolah sendiri biji kopi menjadi bubuk kemasan, penghasilannya bisa berlipat dibanding menjual biji mentah. Hal itulah yang menjadikan warga setempat ikut terlibat dalam pengelolaan kopi di kebun masing-masing. Lalu, dijual ke Muntaha dengan harga tinggi.

Selama ini, biji kopi yang belum diolah hanya dihargai Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per kilogram. Ketika diolah menjadi kopi bubuk, harganya jauh lebih tinggi.  Saat ini wilayah pemasaran produk kopi bubuknya, selain Banyuwangi, juga mulai merambah sejumlah kota di tanah air. Seperti Pekanbaru, Denpasar, Malang, Gresik dan Kediri.

Selain usaha kopi, pria kelahiran 1966 juga telah membuka usaha peternakan lebah madu sejak usia 20-an hingga saat ini. Bagi pria yang memiliki hobbi berbagi ilmu tersebut, usaha peternakan lebah madu sangat menguntungkan. Selain madu yang dihasilkan dari meditasi lebah, pemilik juga dapat memasarkan sarang dan larva lebah yang biasa disebut tolo ke pedagang peracangan,  di sekitar Penataban, Kecamatan Giri.

Sama dengan kopi, pemasaran hasil peternakan lebah madu tidak hanya di dalam kota, melainkan sudah meluas hingga daerah Surabaya, Tuban, Jawa Tengah hingga Bali.

Saat ini, Muntaha memiliki sekitar 50 kotak kandang lebah madu, dari ukuran kecil hingga yang besar. Dalam pemasangan kotak kayu sebagai kandang lebah, menurutnya dibutuhkan penentuan hari baik sesuai kalender Jawa. Hal ini berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat. Jika pemasangan kayu tidak sesuai dengan hari baik, maka lebah tidak dapat menghasilkan madu, meskipun lebah telah bekerja selama dua tahun lamanya. Kondisi ini, kata dia, pernah dialami para peternak lebah madu lainnya.

Menurutnya, panen madu dapat dilakukan setelah satu tahun. Biasaya bulan Juni hingga Desember. Jika musim panas, madu yang dihasilkan akan semakin banyak, bahkan  hingga bulan April. Selain itu, panen juga dapat dilakukan pada sarang yang berisikan anak lebah madu yang dapat dikonsumsi sebagai “botok tawon”. “Saat ini sudah bisa dikembangkan di wilayah lain untuk budidaya madunya. Seperti di Secang, Ketang dan daerah pedesaan lain di Kalipuro dan Giri,” pungkasnya. (wid)