Launching Second Brand SANET Tampilkan Nuansa Muslim Modern

Sanet Sabintang bersama hasil desain baju yang simple, elegance dan timeless. (foto/bb/tin)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – TERUS berkarya, menjadi prinsip desainer muda Banyuwangi, Sanet Sabintang. Di tahun ketiga ini menjadi tahun berharga bagi dirinya dalam menapaki bidang fashion.

Tahun ketiga menjadi tahun penuh berkah bagi wanita Kelahiran Yogyakarta  23 September 1983 ini.  “Alhamdulliah di tahun ketiga ini Allah memberi ide dan kesempatan pada kami untuk menciptakan second brand yang mengusung  moslem wear yang simple, elegance dan timeless,” ungkapnya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Black Label menjadi second brand dari SANET. Jenisnya, produk ready to wear dengan nuansa muslim modern, diperuntukkan bagi  wanita atau pria yang suka tampil simple, elegance dan timeless, serta sopan.

Sesuai dengan aliran fashion yang dipilihnya, yakni simple, elegance dan timeless, sehingga dapat digunakan untuk kerja, santai maupun acara resmi. Non muslim yang ingin tampil sopan dan modis pun bisa memakai produk ini. Menyediakan berbagai ukuran. Untuk hijab tersedia ukuran dewasa dan anak-anak.

Acara louncing Black Label ini digelar di Surabaya Fashion Parade, Mei 2018. Dia berharap makin banyak anak muda yang tertarik menggunakan pakaian yang sopan maupun hijab, namun tetap fasionable.

“Spesial Ramadhan ini, kami memberikan Ramadhan Charity, dengan memberikan sale diskon sampai 50 persen. Berlaku untuk produk baju dan tas. Dimana hasil penjualan 100 persen di sumbangkan ke fakir miskin, dhuafa dan anak yatim,” ucap pemilik Butik SANET di Perumahan Taman Sutri Indah blok C 7-8, Sobo Banyuwangi ini.

Tiga tahun merintis brand SANET, banyak tantangan dihadapi. Dia bersyukur, di tahun ketiga ini, berhasil temukan jati diri dan passion dalam memilih dan mengembangkan aliran fashion. Yakni simple, elegance dan timeless.

Nama Sanet Sabintang dalam dunia fashion Banyuwangi, sudah tak asing lagi. Bahkan produk fashionnya diminati masyarakat dalam dan luar negeri.  Karya-karya desainnya selalu mengandung makna filosofis. Seperti dalam Banyuwangi Fashion Festival 2016.

Dalam even tersebut, Sanet banyak memakai bahan kain lurik dalam karyanya. Maknanya, dalam menjalani hidup harus lurus (lurik), baik ke sesama maupun dengan Tuhan. Aneka warna kain lurik melambangkan hidup yang penuh dengan warna warni kehidupan.

Sanet pun aktif mengikuti berbagai kegiatan fashion show dalam negeri. Berbagai tema dia usung. Seperti Red of Dragon From The East, dan Black Swan. Tema Balck Swan ini dia tampilkan dalam Event Yogya Fashion Parade 2016 dan 2018. Dalam karya Black Swan ini, Sanet cenderung memakai warna hitam, silver dan putih, dikombinasi dengan batik khas.

Menurutnya, selama ini angsa identik dengan putih. Namun, dalam karya ini dirinya ingin menggambarkan angsa dalam warna berbeda. Warna hitam, dipilih sebagai lambang kekuatan, keberanian, ketenangan, kemakmuran dan elengan.

Dalam Deskranasda Jatim, Maret 2018, Sanet menyuguhkan konsep batik baju kerja modern. Selain mengenalkan batik Banyuwangi, juga sebagai pesan, bahwa dengan kekayaan, ilmu dan wawasan yang dimiliki, diharapkan tetap pegang teguh kesederhanaan. Ajang fashion lokal, pun diikuti. Salah satunya dalam Fashion Show Texas in El Royal Hotel.

Sesuai visinya, “Dari Banyuwangi untuk dunia”, Sanet ingin mengenalkan kekayaan dan kearifan budaya Indonesia, baik dengan kain tradisional maupun simbol budaya ke kancah nasional dan international. “Misi kami, selain memperkuat karakter tiap orang yang menggunakan karya desaig kami, juga  bisa bermanfaat bagi banyak orang dan mencapai kesuksesan bersama baik dunia dan akhirat,” pungkasnya. (tin)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan