Slamet Suwito, Ikon Kebo-keboan Alasmalang

Mamet bersama keluarga. (foto/bb/ist)

Singojuruh (BisnisBanyuwangi.com) – USIANYA terbilang masih muda. Namun, kecintaannya dengan budaya tak bisa diragukan. Sosok itu, Slamet “Bodong” Suwito alias Mamet, pemuda asal Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh. Remaja ini menjadi ikon ritual Kebo-keboan di desanya. Dalam setiap ritual, dia menjadi tokoh utama “kerbau” untuk pelaksanaan ritual. Gambarnya dengan tubuh hitam, sorot mata tajam, menggunakan tanduk di kepala menjadi ikon setiap ritual bersih desa tersebut.

Mengenal Mamet, akan langsung teringat sosok kebo (kerbau) di ritual Kebo-keboan di Desa Alas Malang. Selama 8 tahun berturut-turut, Mamet bertugas menjadi kebo-keboan di desa kelahirannya tersebut. Bersama puluhan warga lain didandani mirip kerbau, berbadan hitam legam, bertanduk. Mereka diarak keliling desa sesuai arah empat penjuru mata angin. Di setiap arah mata angina, ada tempat sakral. Masing-masing, Watu Loso, Watu Bacah, Watu Karangan dan Watu Tumeng.

Dalam setiap perannya, Mamet selalu total. Baik dari sisi dandanan maupun ekspresi. Hal itu diakui karena kegiatan ritual adat bukan main-main. Sehingga dirinya akan membawakan peran tersebut dengan serius. “Menjadi bagian dari ikon ritual adat itu berbeda dengan pertunjukan. Karena kita akan mewakili banyak doa-doa dari masyarakat Alasmalang dalam ritual tersebut,” katanya kepada Bisnis Banyuwangi, belum lama ini.

Masyarakat Alasmalang, lanjut Mamet kebanyakan hidup sebagai petani. Kebo-keboan menjadi bentuk rasa syukur. Selain tolak bala, harapannya agar tahun depan hasil pertanian jauh melimpah.

Menurutnya, dalam ritual Kebo-keboan ada lebih dari 40 orang pemuda asal Desa Alas Malang. Mereka ikut menjalankan ritual sebagai sebuah bentuk pelestarian budaya, rutin setiap tahun. “Kalau persiapannya nggak lama. Tapi suka dukanya itu kalau sudah mandi harus berjam-jam untuk menghilangkan legamnya warna dari gerusan arang yang dicampur minyak goreng,” kata Mamet sambil tertawa.

Mamet dan puluhan lakon Kebo-keboan lain merupakan simbolisasi dari sistem membajak sawah zaman dahulu yang menggunakan kerbau, sebelum masa tanam tiba. Dalam ritual ider bumi berkeliling desa, Kebo-keboan akan melakukan ritual layaknya kerbau yang tengah membajak sawah. Mereka juga berkubang, bergumul di lumpur dan bergulung-gulung di sepanjang jalan yang mereka lewati.

Tidak hanya menjadi sosortan dalam ritual Kebo-Keboan Alasmalang, dalam ritual Ider Bumi yang dilaksanakan di Desa Kemiren, pria yang selalu percaya diri ini didaulat menjadi sosok  Gandrung. Menggunakan omprok (mahkota Gandrung), kehadiran Mamet terlihat istimewa. Meski sama-sama menggunakan kostum Gandrung, pria berusia 41 ini dengan percaya diri berjalan berkeliling Desa Kemiren. “Kuncinya ya memang harus percaya diri. Selama bisa bermanfaat bagi orang lain, kenapa harus malu,”pungkasnya. (wid)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan