Jebolan ITB, Sukses Tekuni Usaha Abon

Abon yang mulai digandrungi pasar. (foto/bb/ist)

Srono (BisnisBanyuwangi.co.id) – SETELAH mencoba menerjuni beberapa usaha, pria jebolan Business Managemnt ITB, ini memilih banting setir dan pindah jalur kuliner. Saat ini dirinya lebih fokus mengembangkan usaha produksi abon milik keluarga.

Sebelum ke usaha kuliner, beberapa usaha sempat dilakoni pria bernama Ali Zainal Abidin ini.”Tahun 2013, saya sempat berkecimpung dalam usaha proyek pembangunan sebagai konsultan, namun hanya sampai 2014, kemudian saya pindah ke usaha bimbel,” kenang pria kelahiran Banyuwangi, 9 Februari 1990 ini kepada Bisnis Banyuwangi. Usaha bimbel inipun kemudian dia tinggalkan, beralih meneruskan usaha produksi abon. “Saya merasa passion saya di sini,” ucap suami Fairuz Fajrianti Nur ini.

Usaha produksi abon ini sejatinya sudah dirintis keluarganya sejak delapan tahun silam. Usaha peternakan lele sudah dikelola keluarganya sejak tahun 2010. Bahkan untuk pengembangan olahan lele, pihaknya diberikan bantuan alat pembuat abon.

Karena itu, di awal produksi, pihaknya membuat abon lele. Usaha abon ini awalnya dirintis sang bunda. Namun, sempat fakum, lantaran tak ada yang menangani. Sampai, tahun 2016, Ali tertarik mengembangkan usaha tersebut secara serius.

Nama abon Abwen dipilihnya. Sesuai namanya, unik bikin orang tertarik. Namun, pilihan nama tersebut sebenarnya diambil dari dari kata Abon Banyuwangi Enak. Sesuai namanya, abon abwen ini selain rasanya enak, juga 100 persen terbuat dari daging asli, sehat, higenis dan tanpa pengawet.”  Ini sesuai slogan kami, aman sehat, lezat dan bergizi,” lanjut ayahanda dari Umar ini.

Ada tiga jenis variasi abon, yang diproduksi. Abon lele, abon ayam dan abon sapi. Saat ini proses produksi dibantu 2 tenaga kerja. Proses produksi berada di Dusun Srono RT 01/08, Desa Kebaman, Kecamatan Srono. Sekali produksi, Ali bisa mengolah, 50 kilogram bahan daging lele, 50 kilogram bahan daging ayam dan 10 kilogram bahan daging sapi.

Ali mengatakan untuk bahan abon lele, dipilih jenis lele berukuran jumbo. Hal ini untuk mensiasati agar dagingnya tak hancur saat proses pengukusan. “Makin besar, main bagus,” ungkapnya.

Untuk mendapatan bahan baku lele jumbo ini cukup sulit. Selain budidaya sendiri, Ali biasa membeli ke peternak dan pelaku usaha pembibitan.

Dari 50 kilogram daging lele setelah diolah menjadi 12,5 kilogram abon lele. Sementara untuk 50 kilogram daging ayam, setelah diolah menjadi 20 kilogram abon ayam, dan daging sapi sebanyak 10 kilogram menjadi 6 kilogram daging sapi. Saat ini, abon ayam dinilai paling laris. Selain harganya lebih murah dari abon sapi, hampir semua orang suka ayam.

Proses membuat abon ini kata Ali bisa dibilang gampang-gampang susah. Setelah daging dicuci, dikukus selama 40 menit, diberikan bumbu, lantas digoreng menggunakan minyak.

Proses pemasakan yang sempurna termasuk proses pemisahan minyak menggunakan spinner dan proses pengemasan yang baik, membuat abon buatannya tahan selama 4 bulan, meski tanpa bahan pengawet.

Gaya hidup masyarakat yang ingin serba praktis, membuat abon buatannya laris manis. Permintaan abon ini melonjak saat puasa dan saat musim musim haji.

Harga abon Abwen ini dibandrol mulai Rp 160.000 per kilogram (abon lele), Rp 160.000 per kilogram ( abon ayam) dan Rp 360.000 per kilogram (abon sapi). Masalahnya, kata dia, saat ini di pasaran banyak beredar abon palsu yang dijual murah. Sehingga, merusak citra abon asli seperti buatannya. Di tambah, abon bukan barang camilan. Sehingga tak dikonsumsi tidak tiap hari. “Meski begitu, saya tetap optimis, karena saya yakin akan kekuatan rasa,” ucapnya.

Saat ini permintaan abon Abwen ini sudah meluas, di toko-toko seluruh Banyuwangi, minimarket dan pusat oleh-oleh, dan para pelaku usaha kue. Sejauh ini, pesanan paling banyak, hampir 80 persen dari pasar online. Seperti Denpasar, Surabaya, Bandung, Malang, Sulawesi, Kalimantan, Medan dan Batam.Omzetnya, tembus Rp 15 juta per bulan. (tin)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan