Musim Kemarau, Produksi Gula Merah Anjlok

Pengrajin gula merah di Desa Rejoagung, Kecamatan Srono, Banyuwangi memamerkan produknya, Selasa (16/10). (foto/bb/udi)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.co.id) – Musim kemarau mulai berdampak pada produksi gula merah di Banyuwangi. Krisis air membuat produksi gula merah anjlok hingga 30 persen. Imbasnya, harga merangkak naik. Bali masih menjadi pasar potensial pengiriman gula merah.

Dalam kondisi normal, produksi gula merah rata-rata 6 ons per pohon. Sejak kemarau, produksi anjlok menjadi 4 ons per pohon. “ Turunnya memang lumayan. Ini fenomena biasa. Saat kemarau, produksi nira selalu turun,” kata Sukatmin, Ketua Gabungan Kelompok Pengrajin Gula Merah di Desa Rejoagung, Kecamatan Srono, Banyuwangi, Selasa (16/10).

Pria ini menjelaskan rata-rata satu pengrajin bisa memproduksi 20 kilogram per hari. Sejak kemarau, jumlah produksi terus turun. Kondisi ini diikuti naiknya harga. Dari Rp 12.000 per kilogram, komoditi ini mulai naik menjadi Rp 15.000 per kilogram. Meski produksi kurang, lanjut Sukatmin, para pengrajin tetap normal melakukan produksi.

Menurutnya, pasar gula merah cenderung stabil. Selain Bali, gula merah Banyuwangi banyak terserap ke Surabaya dan Semarang. “ Gula merah kami tanpa pengawet. Jadi, berani bersaing dengan produksi dari Jawa Tengah,” jelasnya.

Selama ini, pengiriman bisa tembus 3-4 ton per bulan. Ditangani pengepul. Harga gula merah, lanjut dia, akan terus merangkak naik ketika bulan puasa. Di desa ini terdapat lebih dari 200 pengrajin gula merah. Seluruhnya masih mengandalkan teknologi tradisional. Tanpa menggunakan pengawet dan pewarna. Sehingga, kualitasnya bisa diserap ke pasar nasional.

Sayangnya, kata Sukatmin, banyak pengrajin gula merah yang mulai tutup. Penyebabnya, kekurangan tenaga penderes. “ Ini yang menjadi persoalan.Jumlah tenaga penderes ikut berkurang. Salah satunya dipicu kecelakaan, jatuh dari pohon,” imbuhnya.

Untuk mendongkrak harga, pengrajin mulai mempopulerkan gula merah organik. Harganya jauh lebih mahal. Meski, proses produksi lebih lama. Tanpa pengawet da nada ramuan khusus. Selain organik, dikembangkan juga gula merah batok. Ukurannya lebih besar, unik.

Selama ini, pengrajin lebih bertahan memproduksi gula ketimbang memanen kelapa. Sebab, hasilnya jauh lebih besar, tiga kali lipat dibandingkan panen kelapa. “ Pengrajin gula merah disini memang turun temurun. Sudah mulai sejak tahun 1970-an,” pungkasnya. (udi)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan