Toko Elghozy dan Juragan Tas, Omsetnya Ratusan Juta

Moh. Saiful Anas, Owner Toko sandal dan tas Elghozy dan Juragan Tas bersama sang anak. (foto/bb/ist)

Cluring (BisnisBanyuwangi.co.id) – MEMBANGUN sebuah bisnis bukan hal mudah. Seorang pengusaha harus punya tekad dan prinsip kuat. Demikian halnya dengan sosok pria bernama Mohammad Saiful Anas ini dalam merintis usaha. Kini, pria asal Desa Karangrejo, Cluring ini, sukses mengembangkan usaha toko tas,sandal dan sepatu Elghozy dan Toko Juragan tas, sandal dan sepatu yang tengah booming di Banyuwangi.  Bahkan toko Elghozy ini kini memiliki 11 cabang di seluruh Banyuwangi.

Anas, panggilan akrabnya, mengawali usaha dari nol. Bahkan tanpa modal. Sebelum mengelola usaha sandal dan tas, berbagai usaha sempat dia coba, meski gagal. Namun, Anas tak pernah menyerah.  Berbeda dengan anak sebayanya, lulus sekolah tahun 2008, Anas yang juga jebolan pondok pesantren ini memilih merintis usaha. “ Saya mengawali bisnis dari pasar  malam, berjualan pernak pernik kaligrafi dan buku anak- anak,” kisah jebolan MA Darul Ulum Muncar ini kepada Bisnis Banyuwangi,  belum lama ini.

Anas merintis usaha buku hanya bermodal dengkul. Setelah berhasil meyakinkan  distributor buku, Anas dipercaya menjualkan buku. “Karena tak punya modal, saya jaminkan ijazah SMA,” lanjutnya. Anas berjualan buku di sekolah – sekolah.  Sampai dia memiliki sedikit modal buat mengkredit sepeda motor.

Sebelumnya, Anas  berjualan koran dan buku di emperan sebuah  toko di pasar Sumberayu, Muncar.   Lantaran toko mau dibangun dia sempat diusir. “ Setelah saya  punya sedikit modal, saya sewa toko,” ucapnya.

Toko pertama dia buka di kawasan Purwoharjo. Menjual ATK, pengelolaan diserahkan ke sang adik.  Menurut Anas, saat itu pasar Banyuwangi belum bagus. Dia pun memutuskan ke Malang untuk kuliah.

Baru beberapa bulan kuliah, Anas memilih berhenti. “Dari pada buat bayar kuliah saya pakai modal usaha,” ucapnya.  Bermodal uang Rp 2 juta, dia pakai membeli gerobak. Anas mencoba berjualan rujak es krim.  “Alhamdullilah, dagangan saya tak laku. Mungkin karena Malang dingin,” kenangnya.

Anas berganti haluan dengan berjualan rujak es krim keliling. Dari kampus ke kampus.  Namun, hasilnya jauh di bawah harapan. Bahkan buat makan saja tak cukup.

Namun, prinsipnya pantang  minta orangtua. Karena ini sudah menjadi keputusannya.  Setelah 8 bulan di Malang Anas pulang ke Banyuwangi, menikah.

Bersama sang istri Makrifatul Ulumiya, dia merintis usaha berjualan sayur di pasar subuh Jajag. Siang harinya berjualan  es. “ Idenya dari Malang,” ucapnya. Kedai es miliknya, kedai “Es-Qu”. Buka pertama di depan toko ATK miliknya, di Purwoharjo.

Berbagai  macam es dijual. Dari es pisang ijo, es degan, es belah duren. “Alhamdulliah luar biasa ramainya. Sehari bisa terjual sampai 300 cup,” ungkapnya.

Kuncinya, kata pria kelahiran Banyuwangi 20 Maret 1989 ini, Kreatif.  Untuk menarik pembeli dirinya membuat kupon beli 10 kali gratis satu.

Anas mengembangkan usaha es dengan sistem waralaba. Sampai, gerai “Es Qu” tersebar di 14 cabang di seluruh Banyuwangi. Jumlah karyawan 24 orang.

Setelah berjalan 4 tahun, kata Anas banyak orang melirik usaha serupa. “Saat itu saya berpikir harus ada bisnis lain,” ucap bapak dari Ghozy ini.

Pilihannya jatuh pada usaha tas, sandal dan sepatu. Mulai dirintis tahun 2012. Berangkat dari modal Rp 30 juta. Awalnya bernama toko Amrina, lambat laun berganti nama menjadi Elghozy . Toko pertama buka di Purwoharjo. Awalnya pengelolaan toko tersebut diserahkan ke sang adik. “Saya fokus di usaha es, karena saya berpikir prospeknya masih manis,” ungkapnya.

Setelah melihat perkembangan usaha tas sandal dan sepatu yang luar biasa, Anas tertarik membuka cabang di  Sumberayu, Muncar. Dan, mulai fokus di usaha ini tahun 2016. Sebelumnya, berbagai usaha kuliner sempat dicoba. Dari usaha kafe, terang bulan sampai usaha es bubble. Namun semua gagal. “ Yang penting berani mencoba meski gagal,” ucapnya.

Namun, kegagalan tersebut berbuah manis. Usaha toko Elghozy berkembang pesat. Dalam setahun, usaha toko yang dikemas secara kemitraan ini bisa berkembang menjadi 7 cabang dan kini memiliki 11 cabang di seluruh Banyuwangi.  Omzet total dari Rp 900 juta sampai Rp 1 miliar per bulan. Tergantung momen. Selain toko Elghozy, Anas dan keluarga juga merintis usaha toko Juragan tas sandal dan sepatu di kawasan Rogojampi dan Genteng.

Untuk pengadaan barang, Anas  menggandeng perajin home industri sandal dan tas lokal. Tersebar dari Jakarta  sampai Sidoarjo.

Usaha toko tas dan sandal ini Anas bisa memperkerjakan 100 karyawan, belum termasuk para pengrajin.  “Saya fokus ke produk lokal. Karena, saya ingin produk lokal laku di negeri kita sendiri,” ucapnya.

Dirinya sengaja menyediakan barang dengan model lebih up to date dan Instagramable. Harga bersaing. Dalam bekerja Anas berprinsip ingin  menularkan semangat kerja keras dan menyebarkan virus wirausaha kepada siapapun, terlebih kepada anak dan keluarga.

Meski begitu Anas merasa  belum berada di zona nyaman.” Target saya bisa mendirikan JT mal tahun 2020. Saya berpikir orang Banyuwangi harus bisa bersaing.,” ucapnya.

Menurutnya, pengusaha besar harus tahu hulu hilir. Bagi pengusaha baru, sebaiknya nikmati saja proses. Makin banyak gagal makin cepat ke pintu sukses. (tin)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan