Desa Tampo Dorong Lahirnya Pembatik Muda

Bupati Anas menandatangani prasasti kampung batik di Desa Tampo, Cluring. (foto/bb/tin)

Cluring (BisnisBanyuwangi.co.id) – MENJADI sentra batik, Desa Tampo, Kecamatan Cluring tak ingin kehilangan ikon tersebut. Salah satu upayanya, mendorong lahirnya para pembatik muda. Semangat ini dituangkan dalam Festival Canting Sewu yang digelar, 16 November lalu. Mulai anak-anak hingga warga dewasa diajak membatik bersama. Targetnya, muncul para pengusaha batik muda yang kokoh.

Hari masih pagi, Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tampo sudah ramai. Suasananya berbeda dari biasanya. Ratusan anak-anak remaja berkumpul, duduk bersimpuh di area terbuka. Tangan tangan mungil mereka dengan terampil memainkan canting, mulai membatik. Mereka membatik massal serangkaian Festival Canting Sewu. Even ini kali pertama digelar desa ini.

Selain membatik, beragam aneka motif batik karya perajin batik Tampo dipamerkan. Kepala Desa Tampo Suparno mengatakan keberadaan kerajinan batik di Desa Tampo sudah ada sejak tahun 1980-an. Saat ini ada enam perajin batik yang berkembang. Mereka memiliki ratusan pembatik.  Karya batik buatan perajin Tampo sudah merambah pasar nasional dan internasional.

Suparno berharap melalui even ini,  ke depan UMKM batik bisa terangkat lebih baik. Apalagi, di Desa Tampo, banyak usaha batik dan usaha lainnya. “ Harapan kami dengan ini mempersatukan usaha satu dengan lainnya. Agar lebih berkembang, lebih memasyarakat dan pemasaran lebih luas,” pungkasnya.

Yang istimewa, Festival Canting Sewu ini dihadiri Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Hadir juga Putri Pariwisata Indonesia. Bupati Anas menyambut baik festival ini. Menurutnya, pembangunan  entreprenurship sangat penting, khususnya di kalangan remaja. “Inovasi harus ada. Jangankan UMKM sekelas pembuat batik. Perusahaan besar, jika tak berinovasi bisa kolaps,” kata Anas.

Anas berharap ke depan basis pengembangan batik ini didorong bisa masuk  sekolah. Sehingga, sejak SD anak-anak yang memiliki keterampilan batik diarahkan mulai menekuni membatik. Termasuk mendatangkan pelatih membatik ke Desa Tampo. “ Anak- anak lulusan SMP yang punya bakat membatik  bisa masuk sekolah SMK jurusan batik. Sehingga maksimal siswa SMA sudah punya bakat membatik dan melakukan entreprenur terkait batik,” jelasnya.

Bupati Anas mengatakan, Italia tak punya pabrik kopi . Namun, memiliki fakultas kopi. Sehingga, Italia memiliki warung kopi di seluruh dunia. Menurutnya, Indonesia memiliki cokelat dan kopi. Namun,  tidak memiliki warung kopi di seluruh dunia. “Saya ingin orang Tampo yang tak punya banyak toko dan banyak uang, tapi keluar dari Tampo bisa menjadi entrepreneur hebat termasuk pembuat batik hebat,” tegasnya. (tin)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan