Gula Semut, Rendah Kalori, Disukai Wisatawan

Isroiyah dan Yudi Irawan, pemilik usaha gula semut UD Latansa di Desa Pakistaji, Kecamatan Kabat. (foto/bb/tin)

Kabat (BisnisBanyuwangi.co.id) – GULA SEMUT, gula rendah kalori ini belakangan kian diminati. Seiring berubahnya gaya hidup sehat masyarakat. Hal ini menjadi peluang segar bagi tumbuhnya pelaku usaha gula semut di Banyuwangi. “Gula semut ini, gula rendah kalori, diminati sebagai pengganti gula pasir,” kata Lailatul  Isroiyah, pemilik UD Latansa di Desa Pakistaji, Kecamatan Kabat kepada Bisnis Banyuwangi, belum lama ini.

Menurut istri dari Yudi Irawan ini, keistimewaan gula semut, selain dari segi rasa, manis ada rasa gurih. Juga, kaya khasiat untuk kesehatan. Yakni, solusi bagi penderita diabetes. Apalagi dari segi harga juga lebih murah.

Iis, panggilan akrabnya, bersama sang suami mulai  mengembangkan usaha gula semut tahun 2017. Sebelumnya, pasutri ini bergerak di bidang pengepul gula merah, sejak 17 tahun silam. Berawal dari modal Rp 5 juta, pasutri ini memulai usaha gula semut. Keterampilan pembuatan gula semut didapatkan dari pelatihan yang dihelat Desperindag Banyuwangi.

Menurut Iis, adanya olahan gula semut ini juga bisa mendongkrak nilai jual produk turunan ini. Prospek usaha gula semut ke depan juga diyakini kian menjanjikan. Produk gula semut buatan pasutri ini juga sudah dinyatakan layak ekspor.

Dari 150 industri kecil menengah (IKM)  yang dibina Bedo dan Perusahaan Sampoerna, produk gula semut buatan pasutri ini masuk seleksi, sebagai produk kualitas ekspor bersama 15 IKM lain. Meski sudah ada tawaran, pihaknya belum melakukan ekspor. Sebab, masih  terkendala harga. “Hal ini, karena kami belum ketemu sama buyer langsung,” ulasnya.

Proses produksi dibantu tiga karyawan. Kapasitas produksi 6 kwintal per bulan. Sejauh ini, kata Iis, pemasaran  gula semut ini sudah merambah kafe, hotel, pusat oleh-oleh dan pelaku industri rumahan. Pihaknya juga aktif mengikuti kegiatan pameran, baik di Banyuwangi maupun luar kota.

Permintaan gula semut ini juga rutin dari pengusaha kopi. “Kami sudah ada kerjasama dengan beberapa pelaku usaha kopi. Salah satunya pemilik Kopi Khayangan di Gombengsari yang pengambilannya lumayan besar,” ucapnya.

Menurut pengakuan pelanggan, kopi yang diseduh dengan gula semut ini sangat disukai wisatawan. Rasanya manis, lebih gurih. Seperti mengandung krimer. Sejauh ini, kata dia, permintaan paling besar dari Bali. “Kami rutin menyuplai kebutuhan pabrik cokelat di Bali,” ucapnya.

Permintaan gula semut secara online  tak kalah ramai. Seperti Bali dan Surabaya. Saat ini produk gula semut juga siap masuk  hotel. “Kami sudah melakukan penjajakan kerjasama dengan beberapa pelaku usaha hotel di Banyuwangi,” tambah Yudi.

Saat ini omzet dari usaha gula semut tembus Rp 27 juta per bulan. Dikatakan Iis, gula semut dibuat dari air nira pilihan. Proses pembuatan lebih lama. Mulai proses pemasakan sampai penjemuran perlu sekitar 8 jam. Gula semut ini tahan selama 1 tahun.

Harganya juga lebih murah. Dijual dari Rp 10.000 isi 100 gram sampai Rp 26.000 kemasan 500 gram. Selain  produksi, Iis dan suami rajin memberi pelatihan gula semut kepada pelaku usaha gula merah. Diantaranya di kawasan Desa Sarongan (Pesanggaran) dan Telemung (Kalipuro).

Pasutri ini berharap di Banyuwangi makin banyak pelaku usaha gula semut. Sehingga Banyuwangi juga bisa dikenal melalui potensi gula semut. Bahkan, pihaknya siap membeli produk gula semut dari petani yang sesuai kualitas ekspor. “Kami siap bergerilya mencari buyer lagi agar bisa menembus pasar ekspor,” ucap wanita yang aktif dalam berbagai komunitas Umami, Aspoba, Perwira dan IKM Bedo ini. (tin)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan