Tokoh Ormas Sayangkan Demo Penolakan Eksekusi Budi Pego

Budi Heriawan alias Budi Pego bersama pengacara saat memenuhi panggilan penyidik Polres Banyuwangi, Mei 2017. (foto/bb/udi)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.co.id) – Aksi penolakan rencana eksekusi koordinator demo tolak tambang emas, Budi Heriawan alias Budi Pego mendapat sorotan sejumlah tokoh di Banyuwangi. Mereka beralasan vonis yang dijatuhkan Mahkamah Agung (MA) sudah memiliki ketetapan hukum. Karena itu, harus dihormati bersama.

Sorotan salah satunya dilayangkan Ketua LSM Konsorsium Demokrasi Banyuwangi (Kodeba) Suparmin. Pria asal Bangorejo ini menyayangkan aksi demo memprotes rencana eksekusi Budi Pego. Dia menyarankan, upaya hukum masih bisa ditempuh melalui jalu Peninjauan Kembalai (PK). “ Putusan kasasi MA, telah memiliki kekuatan hukum tetap atau inkrah. Sebaiknya tempuh PK. Gerakan moral sekarang sudah kadaluarsa, kenapa tidak dalam masa proses kasasi,” tegas Suparmin, Jumat (28/12).

Pihanya juga menyoroti hadirnya sejumlah aktivias dari luar daerah yang ikut membela Budi Pego. Menurutnya, aktivitas luar daerah diyakini tidak mengetahui karakter masyarakat Banyuwangi. “ Tentunya, kita wajib waspada, siapa tahu aktivis luar daerah tersebut dimanfaatkan oknum atau membawa misi yang bisa memicu gesekan masyarakat Banyuwangi dengan aparat,” ujarnya.

Apalagi, kata dia, saat ini memasuki tahun politik. Dia berharap para aktivis lokal bisa memahami bahwa kedatangan aktivis luar daerah bisa berimbas pada kepercayaan masyarakat lokal. “ Ini rawal muncul adu domba,” sesalnya.

Hal senada diungkapkan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Banyuwangi, H. Agus Iskandar. Dia menyayangkan aksi demo yang mendukung vonis 4 tahun terkait logo palu arit dalam demo anti tambang emas. “Bisa diduga kelompok pembela ini memiliki pemahaman yang sama, untuk itu fenomena tersebut harus menjadi sebuah kewaspadaan, baik untuk warga Banyuwangi, maupun masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Menurutnya, larangan  logo palu arit atau lambang PKI sudah disepakati oleh seluruh masyarakat Indonesia. Karena itu, ketika muncul logo tersebut, baik dalam spanduk, kaos dan lainnya, bisa dianggap sebuah kesengajaan.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah massa mendatangi Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Kamis (27/12) siang. Mereka memprotes rencana eksekusi Budi Pego dalam kasus demo antitambang berlogo palu arit. Di tingkat Pengadilan Negeri, Budi Pego divonis 10 bulan penjara, 23 Januari 2018. Lalu, di tingkat banding, Pengadilan Tinggi Jatim menguatkan putusan itu. Kemudian, MA justru memperberat vonis tersebut dengan 4 tahun penjara. (udi)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan

HUB. : 085236362484