Anggaran Merosot, Pengurus KONI Kelimpungan

0
Altet gulat Banyuwangi sedang menjalani latihan. (foto/bb/ist)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.co.id) – Pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Banyuwangi meradang. Pemicunya, tahun 2019, anggaran bagi pembinaan olahraga ini justru merosot, hampir 50 persen dibanding tahun sebelumnya. Anggaran KONI dalam APBD Banyuwangi 2019 hanya dipatok Rp 2,75 miliar, merosot tajam dari APBD 2018 senilai Rp 5,5 miliar. Mirisnya, anjloknya anggaran KONI ini terjadi disaat Pendapatan Asli Daerah (PAD) Banyuwangi tahun 2018 surplus hingga Rp 57 miliar.

Merosotnya anggaran KONI ini membuat jajaran pengurus cabang olahraga (cabor) kebingungan. Total, 29 cabor dan sekretariat KONI yang harus mendapatkan alokasi anggaran.

Pengurus KONI awalnya mengajukan anggaran senilai Rp 9 miliar di tahun 2019. Peruntukkannya, bagi pembinaan dan peningkatan prestasi atlet, ditambah mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim 2019, Juni mendatang. “Kita mengajukan proposal anggaran tidak muluk-muluk. Itu berdasarkan realita dan pembinaan atlet serta cabang olahraganya,” sesalnya,” kata Wakil Ketua KONI Banyuwangi Bidang Anggaran, Ki Agus Syakur, Selasa (8/1). Kenyataanya, hibah dari APBD yang disetujui jauh dari harapan.

Pria ini mengaku, September 2018, pihaknya sudah diperingatkan oleh Sekda, anggaran KONI dipangkas 50 persen. Dalihnya, defisit anggaran. “ Lha, kami tahu di surat kabar (Senin 7/1) PAD Banyuwangi 2018 surplus 57 miliar. Mestinya pemerintah mau menyuplai anggaran KONI sesuai kebutuhan,” keluh pria yang akrab disapa KGS ini.

Imbas minimnya anggaran tak hanya memaksa KONI mengurungkan niat mengirim atlet di ajang Porprov 2019 di Tuban, Gresik, Lamongan serta Bojonegoro. Dana pembinaan yang diterima tiap cabor pun menyusut, membuat kening pengurus berkerut. Mereka harus pandai memutar otak demi efisiensi.

Dicontohkan, olahraga angkat berat atau PABBSI mendapatkan dana terkecil diantara 29 cabor  lain, hanya Rp 21,7 juta. Dana ini harus diputar untuk pembinaan atlet selama satu tahun. Kemudian, Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) hanya menerima bagian Rp 163,2 juta. Meski paling besar diantara cabor lain, POSSI harus menahan diri mengirim perwakilan atletnya dalam Porprov maupun kejuaraan  lain. “Melihat kecilnya anggaran tahun ini bikin nangis. Kasihan anak – anak yang berprestasi, namun tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah,” keluh Ketua POSSI Banyuwangi, Yusuf Widodo. (udi)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan

HUB. : 085236362484