Ajari Membatik Warga Binaan dan ODHA

0
Desi “Pringgo Kusumo” sedang membatik. (foto/bb/ist)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.co.id) – BATIK, bagi sosok wanita bernama Desi Endang ini bukan sekadar  mengumpulkan pundi rupiah. Namun, sarana berbagi bagi orang banyak.  Istri, H. Moh Lukman ini merintis usaha batik sejak tahun 2012, berangkat dari hobi corat-coret. Berbekat keuletannya, pemilik sanggar batik “Pringgo Kusumo” ini sukses melejitkan batik Banyuwangi. Dia pun rajin berbagi pengetahuan tersebut. Salah satunya, mengajari warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Banyuwangi dan para penderita HIV/AIDS (Orang dengan HIV/AIDS – ODHA) dengan keterampilan membatik.

“Awalnya saya tak pernah terpikir akan menerjuni usaha batik. Saya justru banyak memberi ide- ide kepada teman terkait batik. Namun, kemudian saya berpikir kenapa tak mencoba membuka usaha sendiri,” kisahnya saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, belum lama ini. Keterampilan membatik dia pelajari secara kilat dari seorang rekan.

Usaha batik ini dirintis dari bawah, berangkat dari modal Rp 100 juta. Nama Pringgo Kusuma, menjadi pilihan produk batiknya. Terinspirasi dari nama Bupati Banyuwangi keempat yang masih ada hubungan kerabat.

Selain menjaga mutu dan kualitas, batik buatannya hadir dengan tampilan elegan,warna-warna dan motif yang khas.  Jauh sebelum orang bermain dengan warna – warna tabrakan, dan warna – warna sogan, dirinya sudah lebih dulu melakukanya.

Inovasi dan kreativitas menjadi kunci suksesnya. “Saya suka bereksperimen. Inspirasi bisa datang di manapun, dan langsung saya tuangkan dalam desain batik,” ucap wanita asli Rogojampi ini. Tak heran, jika karya-karya batiknya selalu mengandung filosofis dan kaya historis.

Sejauh ini pemasaran batik Pringgo Kusumo ini sudah menjangkau pasar lokal, maupun luar daerah. Bahkan lintas negara. Seperti Swedia, Perancis dan Australia. Dalam bekerja, ibu satu anak ini lebih senang mempekerjakan  pembatik perempuan. Proses membatik, merangkul para ibu rumah tangga di lingkungan tempat tinggalnya. Kurang lebih ada 37 tenaga kerja.

Mereka bekerja di rumah tanpa meninggalkan tugas ibu rumah tangga. “ Sementara ini, prospek usaha batik sementara ini menjanjikan, “ kata wanita low profile ini.

Agar orang mengenal produk batik miliknya, dia  menciptakan pakem Oling, ciri khas produk Pringgo Kusumo. Meski, tak bisa dibantah karya – karyanya banyak ditiru orang. Hal ini tentu membuatnya sedih.

Sehingga muncul inisiatifnya berbagi ilmu. Seperti dengan cara melatih warga binaan LP dan  ODHA belajar membatik secara gratis. “Mereka saya ajarkan membatik tulis. Harapan saya bisa mengentaskan orang – orang yang terpuruk dengan memperkerjakan mereka dan produk – produk saya tak lagi ditiru orang,” ucapnya.

Dengan keterampilan membatik, Desi Endang berharap warga binaan LP dan ODHA ini bisa mandiri setelah bebas. Bahkan, pihaknya siap membantu dalam pemasaran.

Saat ini, wanita yang hobi menulis ini, aktif memberdayakan siswa SLB. Yakni, memberikan pekerjaan kepada mereka. Seperti, membuat tas, untuk packaging batiknya. Meski ongkos yang dia diberikan relatif lebih mahal ketimbang harga tas di luaran.

“Tujuan saya, anak anak dengan keterbatasan ini merasa lebih dihargai, sehingga mereka lebih semangat untuk belajar dan bersekolah. Di situ ada kepuasan yang tak ternilai buat saya,” tegasnya.

Selain menyediakan kain batik, pihaknya juga memproduksi produk ready to wear. Menariknya, produk baju yang buatannya sebagian berbahan produk kain gagal. “Biasanya jika ada produk gagal, gaji karyawan dipotong, tapi buat saya tidak. Saya tetap menghargai hasil kerja karyawan. Untuk itu, saya berusaha memutar otak bagaimana kain sortiran  ini masih bisa bernilai jual,” ucap wanita jebolan Fakultas Ekonomi UNEJ ini.

Dalam hidup, Desi Endang memegang prinsip ingin bermanfaat bagi orang lain. “Karena hidup bukan siapa kita, namun bagaimana kita, termasuk kiprah kita agar bisa bermanfaat bagi  orang lain,” lanjutnya. Jatuh bangun dalam bisnis dia lakoni. Sejak awal usaha sampai usaha itu mulai membuahkan hasil, perjuangan keras menjadi modal utama.  Tak heran jika galeri batik Pringgo Kusumo sukses menyebar ke berbagai kota. Kini, memiliki enam cabang. Mulai Banyuwangi, Jember dan Kalimantan. “Motivasi terbesar saya adalah mereka yang membutuhkan,” pungkasnya. (tin)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan

HUB. : 085236362484