Rawan Erupsi, Alat Pantau Raung dan Ijen Dipercanggih

0
Menteri ESDM Ignatius Jonan mengecek peralatan di Pos Pantau Gunung Api Ijen, Desa Tamansari, Licin, Banyuwangi, Jumat (22/2). (foto/bb/udi)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.co.id) – Rawan terjadi erupsi, Gunung Raung dan Ijen, Banyuwangi mendapat perhatian khusus dari Kementerian Energi Sumberdaya Mineral (ESDM). Dua gunung aktif ini mendapat tambahan peralatan canggih. Pos pantaunya juga dipermak, mirip villa. Salah satu alasannya, Raung dan Ijen menjadi kawasan wisata dan berdekatan dengan Bali.

Menteri ESDM RI, Ignatius Jonan mengatakan bencana eruspi gunung menjadi momok bagi Indonesia. Sebab, berada di dalam lingkaran cincin api dunia. Karena itu, gunung api aktif banyak tersebar di Nusantara. “ Tahun 2016, kita perbaiki pos pantau dan tambah alatnya hingga 66 titik. Tahun 2019, kita bangun 12 pos pantau dan tambah peralatannya. Salah satunya, pos pantau Gunung Api Ijen dan Raung,” kata Jonan usai meresmikan Pos Pantau Gunung Api Ijen di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi, Jumat (22/2).

Menurut Jonan, pembaharuan peralatan dan pos pantau gunung api menjadi keharusan. Sebab, saat ini, para pengamat gunung api dari kalangan muda. Hidupnya, harus ada televisi, listrik hingga gadget. Harapannya, dengan penambahan peralatan dan fasilitas di pos pantau gunung api, banyak anak muda yang tertarik menjadi pengamat gunung api. “ Dimana-mana, pos pantau gunung api selalu jauh dari keramaian dan jalan raya. Kalau fasilitasnya tak lengkap, makin banyak pemuda yang enggan menjadi pengamat gunung api. Ini tren perkembangan zaman,” tegasnya.

Karena itu, pos pantau gunung api dibuat nyaman. Meski jauh dari perkampungan. Sehingga, pengamat bisa betah bertugas. Lalu, secara cepat memberikan informasi terkait perkembangan aktivitas gunung api.

 Jonan mencontohkan gunung Ijen yang dikenal sebagai kawasan wisata dengan api biru. “ Bue fire (api biru) itu adalah gas dari bawah alam. Itu terkadang bahaya. Karena itu, alat pengamatan juga harus canggih, mendeteksi dengan cepat,” tegasnya. Lalu, pos pantau dibuat dua lantai. Sehingga, pengamat bisa melihat langsung kondisi puncak gunung dari ketinggian. “ Selama ini, petugas harus keluar ruangan, mencari tempat tinggi dulu,” jelasnya.

Pos pantau Ijen ini dibangun hanya radius 10 kilometer dari puncak. Sehingga, cukup dekat. Pos ini sudah berpindah tiga kali, sejak sebelum kemerdekaan. Awalnya, berada di bibir kawah Ijen hingga tahun 1951. Lalu, pindah di kaki gunung mulai 1971 hingga 1986 dan pos permanen di Desa Tamansari hingga sekarang.

Pihaknya secara berkala terus memperbaiki peralatan pemantau gunung api, khususnya yang erupsinya bisa sepanjang tahun. Seperti, Gunung Sinabung (Sumatera), Gunung Merapi (Jateng) dan Gunung Agung (Bali). Terbaru, Gunung Raung dilengkapi dengan GPS dan tambangan seismograf. Gunung ini kerap mengalami erupsi. (udi)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan

HUB. : 085236362484